RASA ITU KEMBALI 9#
Bintang
terkesiap, "Oh,abdi bade nepangan bu Radita, itu sanes nya?"
Pura-pura tak mengenal Rara, instingnya reflek memanipulasi keadaaan supaya tak
terlihat canggung atau tak ketauan bengong menatap Rara dari kejauhan.
"Teh Raraaa, tamuuu.." sedikit berteriak perempuan itu memanggil
Rara.
Rara menengok. Senyumnya mengembang. Sedikit terkejut, Rarapun terlihat sangat senang. " Pak Bintang,, geuning tara tisasari. Mangga mangga Pak, kapalih dieu." Rara berusaha wajar.
Rara menengok. Senyumnya mengembang. Sedikit terkejut, Rarapun terlihat sangat senang. " Pak Bintang,, geuning tara tisasari. Mangga mangga Pak, kapalih dieu." Rara berusaha wajar.
Bintangpun
duduk di kursi guru sebelah Rara yang kosong. " Pak, antosan sakedap nya,
ieu nuju ngalereskeun matematika barudak, masih kedah dibantos. Moal lami
da"
Rara berkata sopan dan meyakinkan Bintang bahwa pengajaran dengan muridnya itu hanya sebentar .
Tiba- tiba secarik kertas dilempar pelan ke meja Bintang. Bintang mengambilnya. Tertulis
"DON'T GO"
Bintang tersenyum. Lalu menulis dibaliknya " I' M TIED ON U" dilempar pelan pura-pura tak sengaja.
Rara berkata sopan dan meyakinkan Bintang bahwa pengajaran dengan muridnya itu hanya sebentar .
Tiba- tiba secarik kertas dilempar pelan ke meja Bintang. Bintang mengambilnya. Tertulis
"DON'T GO"
Bintang tersenyum. Lalu menulis dibaliknya " I' M TIED ON U" dilempar pelan pura-pura tak sengaja.
Dua
murid Rara ini agak kurang cerdas rupanya. Bolak balik diterangkan tak satupun
dari mereka munujukkan wajah sumringah karena paham. Tetap saja alisnya
berkerut. Dalam intonasi yang sama Rara menjelaskan lagi, kali ini dia gunakan
alat peraga. Mulailah wajah dua bocah itu mencair, mengangguk-angguk seperti
boneka dakocan yang imut.
" Oh visual." Rara menyimpulkan. Duapuluh menit berikutnya mereka pulang.
"Pasihan terang ka Dadan sareng Agus pami hoyong tiasa ku ibu diantos ayeuna dugi ka jam satu. Langsung ayeuna ka bumi na nya?"
" Oh visual." Rara menyimpulkan. Duapuluh menit berikutnya mereka pulang.
"Pasihan terang ka Dadan sareng Agus pami hoyong tiasa ku ibu diantos ayeuna dugi ka jam satu. Langsung ayeuna ka bumi na nya?"
Murid-murid
pamit. Tinggallah mereka berdua. Guru- guru lain sudah beranjak pulang, tanpa
menghiraukan keberadaan mereka di ruangan.
Sambil memegang kertas tadi Rara melirik ke arah Bintang. Bintang melihat jam tangannya. Sepuluh tigapuluh. Beberapa detik mereka masih terdiam seolah buntu mengolah kata.
Sambil memegang kertas tadi Rara melirik ke arah Bintang. Bintang melihat jam tangannya. Sepuluh tigapuluh. Beberapa detik mereka masih terdiam seolah buntu mengolah kata.
![]() |
| sumber : internet |
Bukan
Bintang namanya kalo membiarkan keadaan tidak dalam kendalinya.
" Aku nongkrongin rumahmu dua minggu terakhir. Aku bbm,aku sms, aku telepon."
" Nongkrongin? Ngga ah, Bukan Bintang banget." Rara tak percaya.
" Iya aku tau Kang.. Maaf gak aku respon. Akang tau kan kenapa.."
" Boleh ku tau ada apa?" Bintang pura-pura gak paham
" Masa gak tau? Feeling aku mah akang pasti sudah cari tau. Gak mungkinlah seorang Bintang berlama-lama dalam ketidaktauan tanpa melakukan apa-apa. Malah aku prediksi cukup tiga hari untuk mengatakan AKU TAU RARA!" Rara mengacungkan tiga jarinya sambil menatap wajah Bintang yang kelelahan tapi senang.
Bintang tersenyum kecil. "Tapi aku gak tau kenapa kau harus marah. Itu masa lalu, kalian sudah menemukan pendamping masing-masing. Kenapa har.."
Sebelum selesai dengan kata-katanya Rara sudah memotong,
" Yang akang lakukan sama persis seperti Darma. Kalian membandingkan. Dulu Darma sering bilang kok aku tak seperti Yana? Liat pakaiannya keren, serasi dan up to date, dia juga lincah dan ceria, tawanya renyah, pintar dan supel, temennya banyak. Bla..bla bla.."
"Dulu aku tak bisa berkata apa-apa, aku hanya bilang kalo aku menyukai diriku. Lalu pada puncaknya aku bilang kita selesai, balik kanan dan bubar jalan." Nafas Rara memburu.
" Aku nongkrongin rumahmu dua minggu terakhir. Aku bbm,aku sms, aku telepon."
" Nongkrongin? Ngga ah, Bukan Bintang banget." Rara tak percaya.
" Iya aku tau Kang.. Maaf gak aku respon. Akang tau kan kenapa.."
" Boleh ku tau ada apa?" Bintang pura-pura gak paham
" Masa gak tau? Feeling aku mah akang pasti sudah cari tau. Gak mungkinlah seorang Bintang berlama-lama dalam ketidaktauan tanpa melakukan apa-apa. Malah aku prediksi cukup tiga hari untuk mengatakan AKU TAU RARA!" Rara mengacungkan tiga jarinya sambil menatap wajah Bintang yang kelelahan tapi senang.
Bintang tersenyum kecil. "Tapi aku gak tau kenapa kau harus marah. Itu masa lalu, kalian sudah menemukan pendamping masing-masing. Kenapa har.."
Sebelum selesai dengan kata-katanya Rara sudah memotong,
" Yang akang lakukan sama persis seperti Darma. Kalian membandingkan. Dulu Darma sering bilang kok aku tak seperti Yana? Liat pakaiannya keren, serasi dan up to date, dia juga lincah dan ceria, tawanya renyah, pintar dan supel, temennya banyak. Bla..bla bla.."
"Dulu aku tak bisa berkata apa-apa, aku hanya bilang kalo aku menyukai diriku. Lalu pada puncaknya aku bilang kita selesai, balik kanan dan bubar jalan." Nafas Rara memburu.
"Siapa yang mau dibandingkan seperti itu
coba? Sakitnya tuh disini! Kalo gak suka kenapa Darma 'nembak' aku dan ngajak
jalan? Aku gak tebar pesona kok. Aku wajar saja. Yang lebih menyebalkan setelah
itu Yana mendatangi kelasku. Dengan manja nya dia.. berkata, maaf ya teh, kang
Darma ngintil-ngintil aku terus nih kayak kucing piaraan. Coba aku berani
nonjok si Yana saat itu."

Komentar
Posting Komentar