Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2016

Sama Benar (nya)

Gambar
Lima bulan ini Reni selalu jalan pagi selepas subuh. Udara subuh itu segar dan menyemangati. Terasa bersih dan asli. Menarik nafas dalam-dalam saat itu, bagai menghirup stok udara terbaru dari langit. Tanpa tambahan asap tak ada polusi. Dinginnya semilir angin, menusuk sampai tulang belikat dibahu kanan. Baginya itu jadi sensasi tersendiri sampai matahari malu-malu mengintip untuk terbit. Selebihnya segar, segar.. Reni baru saja berpisah dari suaminya. Menyebut nama Wahyu, dia mual seharian. Dengan jalan subuh Reni berusaha melupa. Lima bulan lalu, hakim pengadilan agama Bogor mengetok palu segenggaman tangan itu tiga kali. Tapi baginya laksana godam sang Bisma yang menghantam jantung nya tiga kali, ikatan sakral yang dirajut selama tiga tahun itu putus. Reni Prambani dengan Wahyu Pratama. Reni hanya membisu. Seperti sapuan angin sepoi sore hari, tanpa huruhara tanpa tangisan bombay apalagi ratapan bak film India. Reni merelakan begitu saja Wahyu pergi dari sisinya. "Aku ...

Rasa Itu Kembali 14#

Gambar
Dalam kotak ungu terlipat sebuah surat bertulis tangan  Rara. Salam.. Kini sampailah kita Memberi sebuah nama Pada hubungan yang sekarang ini nyata Di rentang usia yang tak muda Aku berharap masih ada letupan dahsyat menggelora Memburu cinta menembus rintang Sekelebat, Jiwamu masih saja liar mengembara Api asmara mu masih lagi belum padam Mencari hasrat luar dalam Ah, aku tak mampu Biarlah aku hanya mengisi satu ruang mu Tanpa perlu berburu bersamamu. Pilihlah satu Masih saja mereka menunggumu Tak perlu ragu yang tak perlu Aku hanyalah penanda waktu Terlalu jauh aku harus mengejarmu Terlalu curam kau menggapai ku Dan..bila saat itu Lambat-lambat seseorang memanggilnya tergesa. " Rara..tunggu!" Terdengar bunyi sepatu seseorang setengah berlari, lalu sebuah tangan menarik pundaknya. Rara menengok, Bintang terengah lalu menyeringai. "Aku surprise banget kamu datang. Ayo ke ruangan ku." Bintang menggamit tangan Rara Rara menghentikan l...

Rasa Itu Kembali 13#

Gambar
Lama sang sekretaris tak keluar dari ruangan. Menunggu, Rara melihat sekeliling. Beberapa lelaki nonton TV atau main game di komputer. Ada yang baca surat kabar tapi kebanyakan  terpaku menatap hapenya. Sepertinya mereka itu staf. Bawahan Bapak Bintang Alamsyah yang berwibawa. Sungguh, sejak masuk ruangan ini Rara ingin sekali menarik kembali ucapannya, bahwa disini tempat berkant or orang-orang pinilih yang berjuang meningkatkan kesejahteraan rakyat. Huffhs..  Jadi ingat awal pertemanannya dengan Bintang ya kaku dan sombong, sangat bisa di valid kan dari sinilah asal muasal nya. Rara tetap berdiri mematung sekitar sembilan menit tanpa putusan. Nekat menyapa seorang lelaki yang tengah asyik main game di komputernya. " Pak saya mau minta tolong. Sepertinya Pak Bintang sibuk sekali jadi saya mau titip ini untuk beliau." Rara menyerahkan selembar kertas tergulung rapi diikat sehelai pita ungu dan sebuah kotak kecil bermotif batik dengan warna sen...

Rasa Itu Kembali 12#

Gambar
  Jam 9 pagi. Jalan Diponegoro sudah ramai saja. Saat Rara kecil jalanan masih sangat lenggang , panas terik tak pernah terasa , apalagi pohon-pohon rindang selalu setia ada disana. Ayahnya sering mengajaknya ke Gasibu. Berlama-lama mereka duduk berdua menatap lekat ke arah ke Gedung Sate. " Tos ageung Rara hoyong didamel di gedung sate nya Pa!" Rara kecil punya cita-cita. "Ny a atuh di du'akeun ku Apa, bisa gawe didinya jeung boga jodona, anu jujur tur junun." Rara terkenang.  Sumber : internet Gedung Sate dulu, disebut Gouvernments Bedrijven dibangun tahun 1920 ketika selesai empat tahun kemudian pada September 1924 pihakKolonial Belanda langsung menggunaka gedung ini untuk Kantor Pemerintahan. Melibatkan 2000 pekerja yang 150 orang  diantaranya adalah seniman, yaitu para pemahat berkebangsaan Cina dari daerah Kanton. Saat ini gedung sate menjadi icon Jawa Barat paling populer, malah bisa disebut terindah di seluruh k...

Rasa Itu Kembali 11#

Gambar
" Kang, yuk bareng solat dhuhur ?" Bintang terbata,  "Iya, ya, eh apa? Ayo.." Selesai solat Bintang tak langsung kembali ke kelas. Di masjid samping sekolah dia beristirahat, sambil menunggu Rara bersama muridnya. Bintang tenggelam dalam kegalauan panjang. "A h sudah. Sepertinya aku hanya memuji sesaat saja. Aku hanya perlu menanyakan tentang sepasang sepatu beda kiri kanannya  yang kerap dia gambar dalam sesi curhat bebas waktu itu. " Lalu Bintang terlelap. Seorang pejabat esolon dua tertidur disebuah mesjid lembab beralas karpet kasar yang sudah pudar warnanya. Kembali ke kelas, Rara sedang merapikan meja.  "Mana muridmu? " " Sudah pulang kang." Lagi-lagi mereka terdiam cukup lama. Rara tau, Bintang sedang memikirkan hubungan ini. Dia sedih banget jika Bintang tak lagi menganggapnya istimewa. Tapi, untuk merebut perhatiannya Rara merasa tak bisa. Cape aja kayaknya. Ketika otot dan otak sudah mulai lambat mengo...