Sama Benar (nya)
Lima bulan ini Reni selalu jalan pagi selepas subuh. Udara subuh itu segar dan menyemangati. Terasa bersih dan asli. Menarik nafas dalam-dalam saat itu, bagai menghirup stok udara terbaru dari langit. Tanpa tambahan asap tak ada polusi. Dinginnya semilir angin, menusuk sampai tulang belikat dibahu kanan. Baginya itu jadi sensasi tersendiri sampai matahari malu-malu mengintip untuk terbit. Selebihnya segar, segar.. Reni baru saja berpisah dari suaminya. Menyebut nama Wahyu, dia mual seharian. Dengan jalan subuh Reni berusaha melupa. Lima bulan lalu, hakim pengadilan agama Bogor mengetok palu segenggaman tangan itu tiga kali. Tapi baginya laksana godam sang Bisma yang menghantam jantung nya tiga kali, ikatan sakral yang dirajut selama tiga tahun itu putus. Reni Prambani dengan Wahyu Pratama. Reni hanya membisu. Seperti sapuan angin sepoi sore hari, tanpa huruhara tanpa tangisan bombay apalagi ratapan bak film India. Reni merelakan begitu saja Wahyu pergi dari sisinya. "Aku ...