Rasa Itu Kembali 13#




  • Lama sang sekretaris tak keluar dari ruangan. Menunggu, Rara melihat sekeliling. Beberapa lelaki nonton TV atau main game di komputer. Ada yang baca surat kabar tapi kebanyakan  terpaku menatap hapenya. Sepertinya mereka itu staf. Bawahan Bapak Bintang Alamsyah yang berwibawa. Sungguh, sejak masuk ruangan ini Rara ingin sekali menarik kembali ucapannya, bahwa disini tempat berkantor orang-orang pinilih yang berjuang meningkatkan kesejahteraan rakyat. Huffhs.. 

    Jadi ingat awal pertemanannya dengan Bintang ya kaku dan sombong, sangat bisa divalidkan dari sinilah asal muasal nya. Rara tetap berdiri mematung sekitar sembilan menit tanpa putusan. Nekat menyapa seorang lelaki yang tengah asyik main game di komputernya.
    " Pak saya mau minta tolong. Sepertinya Pak Bintang sibuk sekali jadi saya mau titip ini untuk beliau."
    Rara menyerahkan selembar kertas tergulung rapi diikat sehelai pita ungu dan sebuah kotak kecil bermotif batik dengan warna senada.
    " Langsung sekarang ya Pak.." Rara sedikit maksa. 
    Tak lupa berkali-kali ucapan terimakasih khas orang Sunda.
    Lelaki itu mengambilnya lalu mengetuk pintu ruangan bosnya beberapa kali sebelum dibuka oleh sekretaris recehan itu. Rarapun bergegas pergi.

    Dalam langkah kecilnya meninggalkan ruangan, Rara mengingat samar-samar yang ditulisnya untuk Bintang.

    ..Kang, sepasang sepatu ini sebagai lambang, pada siapa kiranya Akang menambatkan hati, hanya sebuah saran loh ya..

    Ibarat sepasang sepatu, wanita yang cocok mendampingimu bukan sepatu yang sejenis denganmu. Kau adalah raja, kau adalah segala, hingga tak bisa bersanding dengan wanita yang sama seperti mu. Sama-sama ingin menguasai, yang terlalu percaya diri, Akang itu menjadikan dirimu pusat kendali .
    Carilah sepatu sandal yang ringan dan enak dipakai. Yang tidak berambisi menjadi penguasa.
     Sepatu sandal klasik dan cenderung konservatif  tapi tak lekang oleh waktu tak habis dimakan zaman. Selalu siap dan enak dipakai di setiap keadaan. 

    Setelah itu berjalanlah berdampingan, bergantian, jangan rebutan nanti jatuh..he
    Sesekali kau yang harus dibelakang, tapi disaat lain kau akan tampil didepan. Dan sebagaimana sepatu diciptakan sebagai pembungkus kaki untuk berjalan, berjalanlah ke depan bukan kebelakang..

    Langit malam, 02/15 ( pertemuan ke 4, obrolan yang panjang-panjang itu)..

    Semua tertulis indah digulungan kertas yang diikat pita warna ungu, bergambar sepasang sepatu yang beda kanan kirinya. Sepatu vantovel hitam yang mengkilat dengan tali, dan detail sana sini. Tampak mahal,mewah dan formal. Bersanding dengan sepatu sendal wanita yang casual dan ringan. Tak banyak detail, hanya tertutup sebagian saja hanya sedikit ornamen love disisi kirinya. Krem tua warnanya hanya beda satu gradasi dengan warna vantovel sebelahnya. 

    sumber : internet


    Dalam kotak ungu terlipat sebuah surat bertulis tangan Rara tadi malam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dering Telepon di Saat Hujan

Ikhlas, Bak Kilau Berlian

Rasa Itu Kembali 11#