Rasa Itu Kembali 14#

Dalam kotak ungu terlipat sebuah surat bertulis tangan  Rara.
Salam..
Kini sampailah kita
Memberi sebuah nama
Pada hubungan yang sekarang ini nyata
Di rentang usia yang tak muda
Aku berharap masih ada letupan dahsyat menggelora
Memburu cinta menembus rintang
Sekelebat,
Jiwamu masih saja liar mengembara
Api asmara mu masih lagi belum padam
Mencari hasrat luar dalam
Ah, aku tak mampu
Biarlah aku hanya mengisi satu ruang mu
Tanpa perlu berburu bersamamu.
Pilihlah satu
Masih saja mereka menunggumu
Tak perlu ragu yang tak perlu
Aku hanyalah penanda waktu
Terlalu jauh aku harus mengejarmu
Terlalu curam kau menggapai ku
Dan..bila saat itu
Lambat-lambat seseorang memanggilnya tergesa. " Rara..tunggu!"
Terdengar bunyi sepatu seseorang setengah berlari, lalu sebuah tangan menarik pundaknya.
Rara menengok, Bintang terengah lalu menyeringai.
"Aku surprise banget kamu datang. Ayo ke ruangan ku." Bintang menggamit tangan Rara
Rara menghentikan langkah. "Sepertinya gak bisa Kang, aku ada urusan di Parongpong." Rara melirik jam tangannya.
Bintang mendesak, "Ayolah, kenapa harus menghindar ketemu Darma."
"Oh," Rupanya yang disebut sekretarisya tadi Darma yang itu. Rara bergumam dalam hati.
"Akang sudah baca belum ?" Rara memastikan. "Apa, gulungan kertas itu? Belum. Aku begitu terkejut kau ada disini. Diana tak bilang padaku"
"Ayolah, ayo. Darma datang bersama istrinya Gita dan anaknya yang paling kecil. Tapi sekarang sedang pertemuan dengan bu Netty Heryawan."
"Hufh" Satu lagi pejabat daerah. Rara makin ciut aja.
Dia hanya seorang Rara. Just Rara.
Harusnya Rara menolak, tapi rasa penasarannya mengenal orang-orang 'sukses' di pemerintahan membuatnya berjalan mengikuti Bintang.
" Ah, bagaimana ini? Pagi ini aku begitu mantap menyerahkan surat itu dan melupakan Bintang. Lalu, kenapa aku harus masuk kedalam dan membiarkan diri ku kerdil dihadapan para petinggi itu?" Langkahnya pelan, lalu berhenti , melangkah lagi, berhenti, ragu menghambat. Bintang bingung.
Ditatapnya Rara lekat dan dalam, 
"Kita bukan mau ke penghulu sekarang Ra," Bintang melucu Rara tersipu.
Sekali lagi Bintang menggamit erat tangannya. Beberapa orang yang melihat tampak penasaran.

sumber : internet

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dering Telepon di Saat Hujan

Ikhlas, Bak Kilau Berlian

Rasa Itu Kembali 11#