Rasa Itu Kembali 11#




  • " Kang, yuk bareng solat dhuhur ?"

    Bintang terbata, "Iya, ya, eh apa? Ayo.."Selesai solat Bintang tak langsung kembali ke kelas. Di masjid samping sekolah dia beristirahat, sambil menunggu Rara bersama muridnya. Bintang tenggelam dalam kegalauan panjang.
    "Ah sudah. Sepertinya aku hanya memuji sesaat saja. Aku hanya perlu menanyakan tentang sepasang sepatu beda kiri kanannya yang kerap dia gambar dalam sesi curhat bebas waktu itu. " Lalu Bintang terlelap. Seorang pejabat esolon dua tertidur disebuah mesjid lembab beralas karpet kasar yang sudah pudar warnanya.

    Kembali ke kelas, Rara sedang merapikan meja.
     "Mana muridmu? " " Sudah pulang kang." Lagi-lagi mereka terdiam cukup lama.
    Rara tau, Bintang sedang memikirkan hubungan ini. Dia sedih banget jika Bintang tak lagi menganggapnya istimewa. Tapi, untuk merebut perhatiannya Rara merasa tak bisa. Cape aja kayaknya. Ketika otot dan otak sudah mulai lambat mengolah rasa, juga cinta tak lagi menjadi prioritas utama, yang sesekali meletup lalu meredup lagi tanpa diminta. Rara hanya membayangkan betapa melelahkannya mengejar perhatian dan cinta Bintang. Rasanya Rara ingin segera berkata here Im take it or leave it. Thats all.Persis kayak barang seken yang dijual di jalan Riau.

    "Ra.." Tiba-tiba Bintang membuyarkan lamunannya
    .
    "Sebetulnya aku ingin tahu apa arti sepasang sepatu yang beda kiri kanannya , yang kau gambar terus disetiap pertemuan kita.."
    "Oooh itu iya ya.. Aku simpan dirumah Kang." " Nanti deh aku kasih , aku warna in dulu biar bagus."Tiba-tiba ponsel Bintang yang lain berdering. Sepertinya itu panggilan penting.
     "Ya Din?.." "Sekretaris ku " Bintang berbisik menutup hapenya memberitahu. Rara selalu senang dengan cara Bintang yang sepele -sepele seperti itu.
    Memberitahu siapa yang meneleponnya dan meminta izin untuk menerima telepon. Menatap lurus kepadanya saat berbicara, membawakan alas kaki jika selesai solat di masjid bla bla bla.

    sumber : internet

    Bintang menarik nafas panjang. "Aku harus pamit Ra, ada rapat mendadak dengan Pak Aher tentang PON ."
    "Maaf ya gak nyuguhin apa-apa, makan siang aja belum." "Tadi sungguh wasting time banget, cuma nunggu in aku gak jelas." Rara merasa tak enak.

    "Gak apa-apa Ra , aku senang melihat mu ditempat kerjamu. Tapiiiii...suatu saat kau harus mentraktir ku sebagai ganti hari ini sekalian ceritakan tentang sepatu itu." Bintang menyeringai.
    Rara membalasnya "Siap 86.."

    Sampai diparkiran mereka berpisah. Tiba-tiba Bintang berbalik "Kau gimana, pulang naik motor sendirian, mana mau hujan..?"
     "Gak apa-apa kang sudah biasa kok"
     "Okaylah cepat pulang ya.." Tak disangka begitu cepatnya Bintang mendaratkan kecupan sayang di kening Rara. Bintang Oooh....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dering Telepon di Saat Hujan

Ikhlas, Bak Kilau Berlian