Rasa Itu Kembali 12#



  •  
    Jam 9 pagi. Jalan Diponegoro sudah ramai saja. Saat Rara kecil jalanan masih sangat lenggang , panas terik tak pernah terasa , apalagi pohon-pohon rindang selalu setia ada disana. Ayahnya sering mengajaknya ke Gasibu. Berlama-lama mereka duduk berdua menatap lekat ke arah ke Gedung Sate.
    " Tos ageung Rara hoyong didamel di gedung sate nya Pa!" Rara kecil punya cita-cita.
    "Nya atuh di du'akeun ku Apa, bisa gawe didinya jeung boga jodona, anu jujur tur junun." Rara terkenang. 

    Sumber : internet
    Gedung Sate dulu, disebut Gouvernments Bedrijven dibangun tahun 1920 ketika selesai empat tahun kemudian pada September 1924 pihakKolonial Belanda langsung menggunaka gedung ini untuk Kantor Pemerintahan. Melibatkan 2000 pekerja yang 150 orang  diantaranya adalah seniman, yaitu para pemahat berkebangsaan Cina dari daerah Kanton. Saat ini gedung sate menjadi icon Jawa Barat paling populer, malah bisa disebut terindah di seluruh kantor pemerintahan daerah di Indonesia. Selain sejarah berdirinya versi kakek Wiki, mbah Google serta merta akan menceritakan sisi angkernya. Paling tidak akan muncul tujuh catatan tentang keangkeran gedung ini. Hm..

    Bukan gedung sate kalau tidak dihuni oleh orang-orang pituin Sunda yang someah dan akrab. Sesaat Rara langsung merasa diterima ketika seorang bapak berpakaian biru dongker yang nyunda menyapanya ramah. " Bade kasaha neng?" Jauh dari kesan galak seorang satpam.
    Rarapun menyebut nama Bintang Alamsyah sebagai maksud kedatangannya. Sikapnya langsung berubah 180 derajat lebih sigap dan serius.
     " Mangga ku Bapa dijajap." Setelah memberi kartu bertuliskan TAMU dia mempersilakan Rara berjalan didepan.
    Rara terkagum-kagum melihat kokohnya bangunan ini. Sungguh suatu maha karya luar biasa yang beruntung dimiliki warga Jawa Barat.

    Berhenti disebuah pintu kokoh yang berkilau warna kayu jati kawe satu. Disitu tertulis SETDA . Lalu satpam itu mengetuk pintu dan perlahan membukanya.
    Dari dalam seorang wanita muda yang tampak gesit dan cekatan menyapa ramah, "Iya, Pak Agus?"
    " Ieu aya tamu ka Bapak." Jawab Pak Satpam yang mengantar Rara.
    "Wah Bapak gak terima tamu pagi ini. Gak ada di agenda." Rara yang berdiri disampingnya langsung menyimpulkan, sekretaris!
     " Sedang sibuk ya?" Rara menyela.
     "Ngga sih Bu, tapi maaf Bapak gak bilang akan ada tamu pagi ini selain Pak Sudarma" 
    " Oh, gitu ya.. Maaf sebetulnya saya mau sedikit surprise , jadi gak telepon beliau dulu. Gimana baiknya ya?" Rara minta petunjuk .
     "Coba saja telepon tapi kalo jam segini biasanya Bapak gak pernah buka HP sampe jam duabelas"" Ooh, Rara manggut-manggut" ciut lagi hatinya. Bintang benar-benar orang yang disiplin.
    "Kalau gak keberatan, boleh sampaikan ada Rara, gitu." Membayangkan jawaban ketus nona sekretaris Rara lemas.
    "Gak janji ya Bu, coba saya liat dulu kalo terlihat serius saya gak berani" katanya sambil melengos ke dalam.
    "Hufh,, sekretaris yang jutek." pikir Rara.
     "Kenapa? Apa karena dandananku yang biasa, kurang berkelas dan kurang gaya terkesan seperti ibu-ibu cari dana dengan map merah tua?"
    Rara sudah berusaha. Pagi ini dia dandan total tak seperti biasanya, tapi tetap saja labelnya "bersahaja" . Ketika karakter telah menyatu dengan cara berpakaian, ada saja rasa gak nyaman jika harus ditambah polesan itu dan ini, atau asesoris tambahan lainnya .Pun sebaliknya, mereka yang terbiasa glamor dan fashionable berubah menjadi bersahaja adalah siksaan tak bertepi.


    someah = ramah
    pitun  = asli
    nyunda  = orang Sunda
    kasaha = siapa
    dijajap  = diantar

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dering Telepon di Saat Hujan

Ikhlas, Bak Kilau Berlian

Rasa Itu Kembali 11#