Sama Benar (nya)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Lima bulan ini Reni selalu jalan pagi selepas subuh. Udara subuh itu segar dan menyemangati. Terasa bersih dan asli. Menarik nafas dalam-dalam saat itu, bagai menghirup stok udara terbaru dari langit. Tanpa tambahan asap tak ada polusi. Dinginnya semilir angin, menusuk sampai tulang belikat dibahu kanan. Baginya itu jadi sensasi tersendiri sampai matahari malu-malu mengintip untuk terbit. Selebihnya segar, segar..
Reni baru saja berpisah dari suaminya. Menyebut nama Wahyu, dia mual seharian. Dengan jalan subuh Reni berusaha melupa. Lima bulan lalu, hakim pengadilan agama Bogor mengetok palu segenggaman tangan itu tiga kali. Tapi baginya laksana godam sang Bisma yang menghantam jantung nya tiga kali, ikatan sakral yang dirajut selama tiga tahun itu putus. Reni Prambani dengan Wahyu Pratama. Reni hanya membisu.
Seperti sapuan angin sepoi sore hari, tanpa huruhara tanpa tangisan bombay apalagi ratapan bak film India. Reni merelakan begitu saja Wahyu pergi dari sisinya. "Aku tidak bisa melanjutkan ini, aku ingin kita berpisah." Ucap Wahyu tersendat.
Reni terhenyak, meskipun dia tahu ikatan itu mulai koyak karena hadirnya perempuan bernama Endang, tetap saja Reni tak kuasa untuk bertanya banyak. Dia hanya berkata, "Jangan kau ambil rumah ini ya, aku menggadaikannya setahun yang lalu.”
"Apa ini wanita sabar? Apa begini sikap terbaik dari seorang wanita yang disingkirkan? Apa kau tak ingin sedikit saja mengetahui alasan kenapa kau diceraikan?” “Kau wanita baik Ren, kau terlalu baik untuk diperlakukan seperti ini." Bertubi - tubi Arinda sahabatnya bertanya. Dan Reni menggeleng pelan."Ora opo-opo, akulah yang membuat Wahyu pergi. Aku seorang wanita karir yang berambisi, seorang istri yang kurang bisa melayani suami.” Reni terisak pelan.
“Aku jarang memasak, menyetrika bajunya saja tak sempat, aku belum pulang ketika dia memerlukanku. Gak bisa dandan , atau tampil seksi saat kami dirumah." Kali ini isakannya mulai keras. "Aku seperti bulir padi yang kosong baginya."
Arinda memeluknya erat, mereka menangis bersama.
"Tapi aku tau siapa kamu, kamu tuh donatur terbesar di yayasan yatim piatu milik bu Nani, sponsor rumah singgah di Cikajang. Kau yang menggalang dana untuk saudara muslim kita di Palestina. Kata-kata mu menghipnotis kami kalau kita butuh generasi qurani para penghafal Quran, kau juga yang meloloskan proposal gerakan 1000 bingkisan untuk para dhuafa." Arinda berapi-api menahan kesal.
"Dan kau, kau rela menggadaikan rumahmu untuk menebus rumah panti jompo itu." "Hatimu sungguh mulia kau tak pernah memikirkan dirimu." "Rasanya tak adil Wahyu memperlakukanmu seperti ini." Arinda lirih, sedemikian indah ahlak sahabatnya tapi tak cukup membuat Wahyu membatalkan niatnya.
![]() |
| sumber : internet |
Untuk kesekian kalinya Reni jalan pagi selepas subuh. Ada kesukaan baru yang ditemuinya. Menikmati kesibukan pagi di rumah-rumah sepanjang gang yang dia lewati adalah satu hal. Dia menemukan banyak aktifitas. Ada seorang ibu yang sedang memasak, remaja tanggung yang baru selesai mandi, atau anak sekolah dasar yang sedang bengong menunggu giliran di wc umum.
Sering Reni mendengar suara radio mendendangkan lagu Rhoma Irama, tapi diseberangnya terdengar taushiah apik seorang ulama kondang. Pernah, seorang ibu teriak "La.. banguuuun," dan byurr.. suara air yang mengguyur diikuti suara anak perempuan yang terkejut dan terbirit-birit berlari keluar.
Beberapa sedang menyapu, yang lainnya menyiram, kadang tercium harum bedak bayi dan kayu putih begitu khas menentramkan hati. Ada yang terburu-buru ada juga sebaliknya super santai . Sungguh, suasana yang menggugah..
Reni menyempatkan diri beristirahat. Disebuah lapang olahraga depan sebuah Sekolah Dasar. Dia duduk, sambil memperhatikan sekelompok manula yang sedang berolahraga, lalu dia menulis pesan dari hapenya. "Ar, pagi ini aku menyimpulkan sesuatu, aku anggap perpisahanku hanyalah bagian kecil dari episode hidupku, bukan sesuatu yang perlu dipertanyakan dan sedih berlam-lama. Aku harus move up."
"Kesalahan terbesarku, karena aku tak mencoba mengajak Wahyu melihat 'dunia' yang menjadi tujuan hidupku. Selama ini kami hidup didunia kami sendiri. Wahyu adalah lelaki dengan niatnya yang benar. Mempunyai seorang istri yang manut dan selalu ada untuknya. Seorang istri yang senantiasa berada di singgasana tempatnya bertahta. Baginya, membantu orang cukup dengan sejumlah uang tanpa harus repot-repot terjun ke lapangan. Dia hidup untuk dirinya dan itu kebahagiaan terbesarnya, sedang aku ? Aku adalah wanita yang menggadaikan hidup untuk kemashlahatan umat."
Dengan perpisahan ini Wahyu telah berlaku adil untuk dirinya dan untuk diriku. Seperti keseharian orang - orang yang kulihat setiap pagi dengan berbagai aktivitas yang beda, tampak biasa, mereka hanya sedang menjalankan peran hidup dipanggung dunia, anggap saja begitu. Niat dan tujuanlah yang menjadi pembeda. Selama masih sesuai dengan titah Tuhan tak perlu ada yang merasa terluka apalagi disesali.
Sampai ketemu lusa ya..take care, eh aku dah gak mual lagi menyebut nama W A H Y U..
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

Komentar
Posting Komentar