Dering Telepon di Saat Hujan
Dinda menghela nafas.
Radio Teen-do tengah menyiarkan live “caring for sharing.” Dia lagi baper,
ingin menumpahkan kebaperannya malam ini, tapi pada siapa? Seseorang di sekolah, akhir-akhir ini menyita
fikirannya. Menguasai perasaannya.
“
Halo gaess, pendengar setia Teen-do, radionya remaja yang selalu berkarya tapi
tak lupa berdoa, lagi pada ngaapain ? Nih
malam dingin buanget gaess, langit
menangis sedari sore, risau memikirkan bumi. Lo yang kehujanan usahlah gundah,
jarangkan lo bisa kuyup kayak sekarang?
Saat lo menerjang hujan saat ini , buatlah
koneksi dengan langit panjatkan doa terbaik.
Ah, apa sih yang bisa dilakuin? Selain bersyukur dibarengin sabarnya sekalian. Yups! dua hal super duper keren buat modal hidup, bener nggak?
So
yang masih baper bin galau kemoon
merapat, ungkapin rasa lo di sini, bareng gue Sakira Dewanti. Gue jamin
deh lo bakal plong molongpong kayak jalan tol."
"Yups, gue tunggu lo disini
sekarang! Jangan kebanyakan mikir ya, spontanize its honest.”
Kudekatkan corong mike yang bertahta tepat di depan mulutku dengan semangat
empat lima.
Waktu nunjukin jam tujuh lebih tiga menit.
Kata mas Boyang
seniorku di radio ini, suaraku berat, mirip suara Tata, personil duo Dewi yang
sudah bubar itu. Hangat dan ceria.Nyerocos memang salah satu keahlianku saat
siaran. Monolog 3 babak dengan durasi tiga jam dengan santai bisa aku jabanain tanpa keabisan ide. Berbeda seratus delapanpuluh derajat kalau tak lagi siaran, apalagi saat di kelas. Aku hanya seorang murid yang irit kata dan sering tertidur saat
pelajaran.#Eh.. Kenapa ya? Aku juga nggak tahu, mungkin kelas dan pelajaran
terlalu mengungkungku. Bosan.
Satu lagu dari Tulus
“1000 Tahun Lamanya” meluncur mulus.
“Halo,
radio Teen-do lo siapa nih, dimana?” .
“
Gue Dinda di Depok.” Dinda menyamarkan namanya.
“Okay Dinda, mainkan cerita lo.”
“Gue kayaknya fallin in love sama orang terlarang.”
***
Aku bergegas ke kelas. Tak kuhiraukan saat si Kuncung Cimplung
ganteng bin kalem itu memanggilku berkali-kali. Obrolan di radio tadi malam mem-fix-kan firasatku. Ah, kekasihku Barra
Muhammad Fadil Kuncung Cimplungku telah beralih. Sakitnya mulai berbentuk. Tak
sangka remuk redamnya begitu bertubi. Selama ini aku mendengarkan para galauwer curhat di radio tempatku siaran. Tadi malam, akulah
korban..
“Lo,
harus akui kalau lo suka sama Dinda.”
Pulang sekolah ku tarik Barra ke kantin.
“Nggak.”
Barra
menatapku .
“
Oke, tapi dia tuh ngarep banget dan lo
ngasih harapan. Gue liat lo betulin
brosnya yang lepas dari hijabnya, lo nge prank dia. Lo asyik ngobrol sama dia.”
Aku ingin sekali terisak.
“
Asal lo tau ya, tadi malam, dia nyebut lo ‘the choosen man’ yang mau mutusin
pacarnya, as soon
as possible.” Tetiba aku sesak,
rasanya seperti ketiban berpuluh batu bata. Kali pertama aku mengutuk diriku
sebagai penyiar. Mendengarkan curhat seseorang yang menyukai pacarku sendiri.
Arrrghhh…
“Dia
tau, kalo tadi malem itu gue yang on air?” Aku
menyelidik.
“Nggak,
Dinda nggak tau kalo lo penyiar. Suerr! Tapi gue harus akuin, lo jauh sekarang
Kri. Gue butuh temen ngobrol.” Barra menunduk.
“ Fine. Kita end.”
Tanpa airmata. Air mataku terlalu berharga untuk seorang lelaki kayak Barra.
***
Tiga minggu berlalu.
Sakit terhianati menyisakan perih. Tapi ujian akhir semester tetap saja
berlaku, nggak peduli kalau lagi patah hati. Aku berusaha move on. I’m a
standing man. Kalimat sakti untuk Tom Hanks difilmnya yang berjudul “Bridge of Spies”.
Kegiatan.Mabit di sekolah tahun ini dilaksanakan menjelang bagi raport. Acara di mulai setelah solat ashar. Aku
tergopoh. Setelah lapor ke panitia aku bergabung dengan yang lain. Beuh. Dinda ada di sana bersama Silvi
sobatnya.Si Ratu Komen. Ah, rasanya tak tahan.
Godaan untuk segera hengkang mengetuk-ngetuk kepalaku. Menunggu Risma bagai menanti patung
budha terbangun dari semedinya. Saat mengendap-ngendap itulah Kando sang Ketua Rohis memergokiku.
“Mau
kemana Kri.” Katanya sambil tersenyum penuh wibawa.
“Menghindar
dari Dinda ya?” Dia menyelidik.
“Ah, nggak.., gue mau cari Risma .” Berharap aku terlihat tenang .
Kando memberi isyarat
agar mendekat. Bagai terhipno Romel Rafael aku menghampirinya. Kami duduk
berseberangan. Malu rasanya berhadapan dengan orang se alim dia tanpa hijab di rambutku.
Baru kusadari temen sebangku si Kemplung Cimplung enak dipandang dan
menenangkan siapapun yang ada di dekatnya. Pantas peserta mabit kali ini penuh sesak oleh
jenisku.
“
Hadirlah di sini dengan niat yang lurus.” Ujarnya.
“
Gue doain lo Kri, semoga kita bisa melakukan banyak hal ke depannya. Lo masih
siaran di Teen-do?” Teg! Dug! Tetiba jantungku berdegup tanpa
harmoni.
Apa maksudnya melakukan banyak hal ke depan? Kita udah mau kelas
duabelas. Mau duet siaran? Mau dakwah di radio gue? Aah, tak berani kutanyakan. Gimana kalau lo jadi
pacar gue aja Ndo? Aiissh.. ngarepnya aku.
Hanya semilir angin yang membuatku sedikit
tenang, padahal darahku mendidih, tapi bukan karena marah.
“Lho
kok bengong? Gue tau lo siaran dari Barra. Dia sering banget nyeritain lo.
Heran deh kalian bisa putus.” Kando memutus lamunanku.
“Oh
ya, gue pernah nelepon saat lo siaran. Gue, pake nama Dilan.”
Ssplaashh.. Copot deh jantungku.
***
Pas tengah malam, aku mulai resah. Ceramah dan diskusi selepas isya tadi sedikit mengubah cara fikirku tentang hijab. Kami hanya tidur sekitar
tiga jam lalu dikumpulkan di lapangan basket.
Aku melihat Kando bercakap dengan beberapa temannya. Oh, ada Barra di sana.
Ah,
sekelebat rindu juga padanya. Kando melihatku begitu juga Barra. Aku tersipu.
Di lihat dua lelaki keren siapa yang
bisa wajar.
Tiba-tiba seluruh penerangan
mati. Semua peserta duduk beralas tanah, menunduk. Terdengar langkah-langkah
kaki yang diseret. Setelah itu hening.
Hanya berteman angin
malam dan tangan yang saling menggenggam. Aku berzikir. Menerka-nerka apa yang
akan terjadi. Samar terdengar seseorang
membaca ayat suci Al-Quran dengan suara yang tenang tapi sangat menawan. Ah,
aku jadi
melow dan merindu. Suara yang tak asing buatku. Selanjutnya, kami para peserta hanya bisa terisak isak.Ingat ayah, rindu ibu. Mengingat dosa nangis dan tambah nangis saat seseorang di tengah lapang menceritakan sakitnya sakaratul
maut.
***
Esoknya, saat pulang,
aku dan Risma berjalan santai. Walau raga ini
meronta kecapaian, tapi kegiatan tadi malam harus ku akui memang penuh
kesan. Risma sobat cantikku itu masih menyisakan semangat bercerita tentang
kegiatan semalam.
“Gile
ya, si Barra ternyata, jago tilawah juga, udah mah pentolan basket,wakil ketua OSIS, cakep
tinggi, emang nggak nyesel lo, Kri?” Risma menyenggol bahuku.
“Udah
gitu si Kando pulak, pidatonya menyentuh banget, natural tapi kharismatik. Tadi
lo merhatiin kagak ? Bubar acara tuh cewek-cewek kelas sepuluh berkerumun
minta selfih, berubah deh acara syahdu jadi ajang insta story.“
“
Bukan cewek,Ris… tapi para akhwat.” Aku pilih sebutan yang
pas untuk para perempuan muslim. Nggak tahu kenapa aku mendadak santun berbahasa. Tetiba terpkir juga untuk mengundang
Kando saat aku siaran. Menyebarluaskan kegiatan mabit ini bisa menginspirasi. Padahal baru kemarin dia
ngomongin kerjasama, sekarang udah muncul aja idenya.
***
Sisa capek belum terbayar dengan tidur nyenyak tanpa gangguan, tapi malam ini aku harus siaran. Kuseret kakiku menuju ruangan empat kali empat meter tempat aku menjadi aku yang lain. Di luar, hujan
lebat berkejaran dengan angin. Omongan Risma masih terngiang-ngiang, kok bisa melepas
Barra tanpa usaha mempertahankan? Wallohualam bishawab.
Lagi-lagi aku jadi santun.
Tiba-tiba ada telepon
masuk.
“Hallo
Radio Teen-do dengan siapa nih?”
“Assalamualaikum,
gue Dilan. Boleh gue berbagi disini?” Teg! Dug!
“
Hai Dilan, lo pernah mampir ke sini ya? Okey apa yang mau lo share?”
“Sebenernya
ini curhat sohib gue yang baru putus.
Ternyata dia nyesel banget. Dia minta pendapat gue gimana caranya bisa balik
lagi. Tapiiii,,, ini nih yang gue nggak ngerti."
"Kenapa ya, gue nggak rela? Gue suka
sama mantannya, cuma nggak bisa nyatain perasaan ini, gue nggak bisa pacaran. Apa yang… ” Mendadak
otakku jadi hang berat, nggak bisa nyimak nggak bisa fokus.
Kata-kata Dilan
alias Kando samar ku dengar. Darahku mendidih, tapi bukan marah. Satu kalimat
lagi Kando ngomong aku bisa pingsan.


Komentar
Posting Komentar