(Just) Listening
“There is a voice that doesn't use words. Listen." -Rumi-.
Akhirnya yess! Saya
bisa datang lebih awal. Sengaja, supaya bisa
ngobrol dulu sama wali kelas. Obrolan tentang May anak bontotku yang
hari itu di bagi raport semester pertamanya di es
em pe. Buat para emak, curcor colongan saat pembagian raport memang paling asyik dimanfaatkan. Bikin lega alias
plong. Lelah hayati membersamai anak-anak rasanya terbayar sudah.
Saat masuk, di kelas sudah ada dua orang ibu dan satu orang bapak Yang dua, sudah ngobrol dengan Pak Sarif wali kelas. Ah, masih kurang pagi rupanya,
padahal aku surprise sama diriku sendiri bisa datang sepagi itu. Ternyata masih
ada yang lebih pagi lagi. Sambil menunggu, sifat curiousku kambuh, mulai
menyelidik, melihat-lihat seisi ruang kelas. Bagaimana dan ada apa.
Kelas May sekarang tidak lagi dipenuhi dengan hiasan atau
gambar. Tak banyak lagi tempelan warna warni memenuhi ruangan seperti waktu
masih sekolah dasar. Hanya kumpulan post
it bertebaran di depan kelas, di sebelah kanan dan kiri papan tulis. Penasaran,
saya hampiri kumpulan post it
itu. Awalnya saya kira itu catatan anak-anak tentang teman
mereka. Pernah kan waktu sekolah dulu,
dapat tugas, mendeskripsikan tentang teman sebangku? Nyenengin, nyebelin,
centil, pendiam, murah hati atau pelit? Dan sifat lainnya, Tuliskan dengan sejujurnya.
Sayangnya tugas itu dibuat di buku PR
yang hanya dibaca dan diberi nilai oleh
guru. Selesai. Padahal kalau sekarang,
tugas itu sangat seru untuk didiskusikan. Bayangkan, saling menilai sesama teman
tanpa jadi baper no hurt feeling. Bukan
hal yang gampang buat anak remaja apalagi
perempuan. Ah, jadi ingat pengalaman pribadi.
Ternyata kertas –kertas
post it itu berisi tentang harapan ! Intonasiku seperti dewan
juri yang mengumumkan pemenang, Ha-ra-pan. Setuju banget! Anak-anak harus terus
di asah kemampuan kognitifnya. Dengan nalar yang mereka pahami, berani menuliskan dan ditempel di depan kelas. Apalagi
kalau diungkapkan di depan kelas.
Saya harus jujur
sebagai orang tua masih belum sering ”mendengarkan” anak-anak. Kadang tidak berhasil, apa sih yang anak-anak fikirkan apa sih yang diperlukan terlebih
lagi apa yang mereka rasakan. Hanya memperhatikan yang tampak dari luar.
Saya lebih sering 'sok tahu' tentang
fikiran mereka. Baru sedikit cerita sudah saya banjiri dengan nasehat dan petuah
yang bisa jadi belum mereka fahami karena kognitif yang bagaimanapun usia remaja, tetap saja masih tumbuh dan
berkembang.
Isi yang ditulis anak-anak cukup beragam, dari hal-hal yang sederhana sampai yang tak terduga. Syukurlah disana
tidak semua menulis insinyur atau dokter sebagai profesinya. Seperti halnya
tidak melulu menggambar dua gunung ditengahnya matahari seperti gambar Pak Tino
Sidin dulu.
Ada anak yang menulis ingin punya kakak laki-laki. Ada
yang ingin melihat ibu tersenyum. Ada juga yang berharap kelasnya juara terus
di setiap perlombaan. Ada yang minta di follow instagramnya, ada yang mau jadi
youtuber. Yang menggelitik, ada yang pengen pergi ke Korea supaya bisa ketemu SUT, (G) Idle. Siapa itu? K-pop terkenal ya? dan pengen jadi hacker supaya bisa menjaga dokumen Indonesia.
Waah,.
Sebagai ibu saya cukup terkesan dengan apa yang mereka
tulis. Youtuber profesi kekinian yang muncul sebagai konsekuensi berkembangnya media
sosial banyak di khayalkan anak-anak milenial ini. Maaf salah, bukan saja dikhayalkan tapi sudah ditekuni sejak masih di bangku sekolah.
Sayang, sampai tiba giliran maju saya tak menemukan harapan
yang ditulis May. Baiklah, saya akan lebih sering mengajaknya ngobrol dan saya
hanya sebagai pendengar.
Bandung, 12 Desember 2018



Komentar
Posting Komentar