RASA ITU KEMBALI 10#


"Kalo sekarang ?" Bintang menyela. 
"Ya aku tonjok Akang aja lah, dasar laki-laki selalu gak pernah cukup." Rara terlihat gemas. 
" Yang menyakitkan lagi, Akang datang duapuluh tahun kemudian dan melakukan hal yang serupa, dengan orang yang sama, Yana..!!! " Rara kesal tapi berusaha tenang setelah satu minggu berusaha berdamai dengan hatinya. 
"Tapi ya udahlah, show must go on, rugi amat berlama-lama kembali ke masa lalu. Orang-orang udah sibuk dengan 100 impiannya masa aku stuck karena satu ini" 
"Okay sekarang apa?" Terburu Rara mengalihkan pembicaraan.
Bintang makin suka aja sama Rara. Sedari tadi Bintang membayangkan Rara akan menumpahkan kekesalannya setelah seminggu lebih gak bertemu. Atau pura-pura tak ada apa-apa tapi terus saja mengungkit masalah itu ke depannya.
SUMBER : INTERNET

"Darma sobat ku di STPDN kami satu barak. Sampai sekarang selalu meyempatkan ketemu kalo dia sedang di Bandung" 
"Emang gue pikirin"
jawab Rara ketus. 
"Kalo kita jalan, suatu saat pasti kalian harus ketemu.."
"Yeah, kita lihat saja." Rara mengangkat bahu.  " Sekalian aja sama Yana" " Eh, atau jangan-jangan mereka berjodoh ya?" Rara mengira-ngira..
" Ngga. Aku malah gak tau kalo kalian pernah ada sesuatu."
" So,,, everything its clear. Im oke you alright, what next?
" Rara ingin segera beralih topik
Bintang mendesah. Dia jadi gak percaya diri, gak yakin apa yang dia mau sebenarnya. Tiba-tiba semua jadi gak jelas. Seakan seakan sekelebat bayangan lewat dan membawa pergi dengan teramat cepat keyakinannya pada Rara. Bintang mulai menimbang berteman saja, hanya sekedar suka, atau malah mencintainya? Frekuensi getarnya fluktuatif sekarang ini. Hufh.. masihkah mampu menjalani tahapan-tahapannya? Pernyataan cinta, pacaran, cocok menikah, kalo tidak putus. Aaah, kayak umur masih belasan aja." Bintang berkata-kata dalam hatinya.
Selintas terpikir oleh Bintang kalo dia fine fine aja dengan atau tanpa Rara. 
"Tujuh tahun ini aku sendiri keep smile and always happy , just move on and make my own destiny. "
"Emang siapa Rara sampai aku harus terpikat padanya? Untuk sebongkah perhatian dan obrolan panjang yang berkesan apakah itu cukup? Bukankah aku punya Diana yang penuh perhatian ? Dia sekretaris yang gesit dan lincah. Ada Yana teman mesra yang siap aku ajak kemana saja. Ada Wury yang setia dan bersegera jika ku telepon dan Sari yang selalu menemaniku memasak karena hobi kami yang sama. Walaupun sudah menikah tapi mereka begitu bela. Aku gak tau kenapa mereka mau melakukan semua? Aku gak peduli suami mereka tau atau tidak. Dan mereka juga tau aku tak menawari sejumput cinta atau hasrat lain selain berteman."
So.. Bisa kah itu semua tergantikan dengan satu orang bernama Radita Parahwati!?
Yang dengan atas nama cinta aku menjadi terikat pasti? Yang karena cinta pula aku menjadi tersakiti? 
Bintang masih asyik dengan fikirannya ketika tiga murid Rara datang setengah jam yang lalu. Tak lama jam dinding berdetak duabelas kali. 
Rara menepuk bahunya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dering Telepon di Saat Hujan

Ikhlas, Bak Kilau Berlian

Rasa Itu Kembali 11#