RASA ITU KEMBALI 8#

Yana mengerenyitkan alis. Mengingat nama, memilah acak berbagai kejadian masa lalu yang berkelebatan di otaknya.
 Sekian lama mencari, Yana berhenti disatu peristiwa.
"Ooooooh, Radita Parahwati Samiaji? Betul? Dia? Kan pacarnya Kang Darma, Sekda Banten sobatmu tapi duluu, waktu itu Rara kelas dua aku kelas satu. Rara terlalu kalem sih, kang Darma gak suka. Akhirnya kang Darma memilihku, tepatnya aku rebut sih abis nggak bangett deh ibu Radita ini, Parah.. Sesuai namanya."  Yana terkekeh. "Aih, aih , aih, small world.."
Bintang sedikit terkejut. Sudarma Atmadja, sobatnya di STPDN. Bekerja di lingkungan yang sama di Pemerintahan Daerah. Selama dikampus dulu, tak pernah mereka ngobrol tentang wanita. Hahaha..laki-laki kan suka jaim kalo harus curhat tentang kelemahannya, apalagi tentang wanita..
Dalam keterkejutan Yana melanjutkan, "Ajak ketemuan dong Kang..kita seru-seruan. Ntar aku ajak mas Bowo deh dan Akang ajak teh Rara." " Kalo sama kang Darma dan teh Gitanya makin seru kali ya..?"
Yana menyebut nama Bowo suaminya dengan hampa.



sumber :internet
Bintang tak menggubris. Dia mulai bisa menebak kenapa Rara kecewa kepadanya.
Sekolah Dasar Negeri Giri Mekar 3 tampak sepi. Anak-anak hari itu sedang ujian tengah semester. Mereka pulang lebih awal hanya beberapa saja tampak bermain bola di lapangan. Motor guru-guru terparkir rapi di tempatnya. Bintang tersenyum, motor Vario putih Rara terparkir disitu, yang membuatnya senang helm yang mereka beli berdua dengan warna yang sama masih dipakainya.
Celingukan dia mencari ruang guru. Sampai diujung lorong Bintang mendongak ke dalam suatu ruangan. Perasaannya campur aduk, dag-dig-dug dan dingin tangannya.
"Ah, wanita, lagi lagi dirimu membuatku tak karuan. Gak dulu, gak sekarang tetap saja membuatku gugup. Mana Bintang yang tegar." Dia menguatkan dirinya.


Terlihat Rara sedang menulis di mejanya, bersama dua orang murid yang tampak bingung mengerjakan soal. Dalam bahasa Sunda yang kental Rara begitu sabar menerangkan.
Bintang terpaku. Wanita yang sedang mengajar ilmu itu telah menyihir nya. Tampak bersahaja, tanpa riasan tebal serbaneka. Tanpa parfum pula, hanya Rexona biasa. Pakaiannya sih mahal makanya tampak berkelas diantara guru lainnya. Tapi tasnya bukan merk ternama. Hanya tas casual yang multiguna. Bisa dipakai ke kantor, dasyik untuk hang out atau ke pasar sekalipun. Kalau kepepet bisa juga dipake ke undangan khitan. Ah, selera tas Rara memang payah. Tapi Bintang gak peduli, jiwa dan hatinya yang tulus membagi ilmu, membuat Rara berpendar samar, dan pendarannya menyapa hati Bintang yang gersang. 
Diseberang meja tampak beberapa guru sedang asyik ngobrol tentang berita di TV tadi pagi yang heboh membahas penangkapan Bambang Wijayanto komisioner KPK oleh polisi.
Dalam keterpakuan tiba-tiba seorang wanita muda menyapanya ramah, "Bade nepangan saha Pak? Ruang Kepala Sekolah mah palih ditu." Perempuan muda itu menunjuk ke sebelah kanan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dering Telepon di Saat Hujan

Ikhlas, Bak Kilau Berlian

Rasa Itu Kembali 11#