Rasa itu Kembali 4#

sumber : internet
Pertemuan ke 7 dalam dua bulan. Sore ini Bintang datang hanya memakai kaos oblong bertuliskan AHER SABISA-BISA KUDU BISA PASTI BISA, sandal the crock dan celana denim biru kusam. Tak seperti biasanya yang selalu serasi eye catching Bintang terlihat santai dengan sekantong keresek berisi martabak asin kesukaan Rara. 
Tujuh pertemuan dalam dua bulan jauhlah dari kata kencan atau apel malam mingguan. Lebih terasa sesi curhat seorang pasien stress yang selalu menyalahkan orang lain atas kondisinya yang malang. Pernah sekali ke bioskop atau sekedar makan disebuah mall. Dan Bintang selalu cerita tentang dirinya berpusat padanya. Ah, berlebihan juga sih kalau dikatakan pasien stres seperti itu..tapi Rara memang tak punya kata-kata lain yang bisa mewakili keakraban hubungannya sekarang ini. But, entah kenapa rasa sukanya tak beranjak dari hatinya. Tetap ditempat yang sama. Ada cara Bintang yang membuatnya nyaman, perhatiannya yang tak seberapa tapi selalu membuat pipi Rara semu merah jambu. Waktunya yang terjadwal membuat Rara merasa semua berjalan dengan baik. Dia juga senang Bintang selalu mengajaknya solat di masjid ketika mereka sedang diluar. Sempat juga obrolan berlangsung dipinggiran teras sebuah masjid sambil menunggu azan selanjutnya. Ah, laki-laki yang simpatik. Bintang juga selalu bertanya " Apa kamu nyaman saya ajak kesini?".

Tapi sore ini sambil membuka keresek martabak asinnya, Bintang bertanya santai " Kamu gimana Ra? Giliranmu bercerita padaku!" "Tentang apa? " jawab Rara bingung karena seperti biasa Rara sudah menyiapkan lembaran kertas HVS kosong yang siap ditulisi atau sekedar coretan gambar. "Everything.." kata Bintang antusias.
"Ah akang, nyuruh aku cerita segala. Aku gak bisa cerita kayak Akang. Aku lebih bebas ber curhat ria justru lewat aksara. Dan omongan akang tuh bisa aku tulis sampai jilid ketiga tapi aku jamin gak ada yang mau baca!" Rara merasa sekarang waktu nya mengajak Bintang pada cara berfikir yang sedikit beda.
Bintang bukannya tersinggung tapi malah terbahak lama. " Hahaha.. Makanya dibuatnya limited edition hanya untuk orang yang peduli!"
"Dan kau orang yang peduli itu Ra, cuma satu kamu!" Bintang mulai serius bicara. "Memangnya aku tak perhatikan, setiap aku cerita kau selalu mencorat-coret dikertas?" Hingga pada obrolan kita di mobil setelah pulang undangan pernikahan Saskia, sejak itu kau hanya menggambar sepasang sepatu yang beda.." Rara agak malu sebenarnya, terkejut aslinya tapi dia suka. Ternyata kertas-kertas itu tak luput dari perhatian Bintang.

"Caramu keren Ra! Diam-diam aku baca coretanmu itu. Kau mampu menyimpulkan omonganku yang kelewat panjang dan itu-itu saja. Aku merasa terbantu banget loh, harusnya kau jadi psikolog, kau cukup mumpuni dan sangat menjiwai. Kau rela mengobseravsi pasienmu dengan berlama-lama dan larut dalam kasus mu." Hati Rara berbunga, baru kali ini di usianya yang sudah middle up ada yang mengakui kelebihannya. Ya ! Passionnya memang mengamati orang-orang, bukan pada angka. Sebagai guru matematika.
"Hanya tentang wanita yang membuatku tak terarah. Bingung tenan aku, Ra! Tapi resume mu membuatku merasa lebih mudah. Ternyata aku serapuh itu ya...?"
Rara terkesiap. Alih-alih meng iya kan kalo Bintang memang rapuh Rara malah berseloroh. "Resume?? Diskusi ilmiah kalees ada resumenya." Rara berusaha menutupi rasa senangnya.

" Sejujurnya aku menemui wanita selainmu". " Aku menceritakan hal yang sama"
Rara membatin.Meradang lebih tepatnya. Entah cemburu atau karena.. Ah, apalagi maksudmu Bintang?
"Oh.., Akang membandingkan kami? Menilai siapa yang akang anggap paling bisa tahan berjam-jam duduk manis mendengarkan curhat-curhat akang itu?" " Akang payah !!!!"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dering Telepon di Saat Hujan

Ikhlas, Bak Kilau Berlian

Rasa Itu Kembali 11#