Rasa itu Kembali #2

Sepanjang perjalanan, Bintang banyak berbincang, nyata benar bedanya ketika di dunia maya yang irit kata. Sedikit basa basi tentang anak-anak, diselingi prolog ringan yang hambar "Kamu tau Ra, kenapa sekarang siang hari panas banget? Karena Matahari buka cabang dimana-mana." Bintang terbahak seakan leluconnya upto date kayak Cak Lontong yang terkenal itu, padahal sumpah,,, Rara sudah tahu sejak anak sulungnya masih netek 12 tahun yang lalu.
Yah mau gimana lagi, Rara hanya bisa tertawa tersamar tapi senang bukan kepalang.

Topikpun berganti. Bintang begitu terbuka, tentang pernikahannya, tiga anaknya, juga mantan istri dan mantan calon istri tak luput dari ceritanya, apalagi tentang pekerjaannya yang membuatnya sukses seperti sekarang.
Ada hal yang membuat Rara pun termenung dibuatnya. Menurut Bintang, wanita sangat sulit diterka. Rara menyela ,"Istrimu ya Kang, bukan aku..he"
Dulu istrinya dan calon istrinya sangat ekspresif, senang bercerita, tapi selalu saja ada keluhan. Kadang mengeluh tentang anak, pakaian, pekerjaan rumah, pembantu yang tak pernah betah, mengeluh jalan yang macet, harga yang naik, atau tentang dandanannya. Kadang mereka mengeluhkan potongan harga yang tak seberapa. Atau menceritakan netizen yang aneh-aneh. Yang gak habis fikir kata Bintang, perempuan tuh ingin jadi ibu yang baik tapi pengen punya duit alhasil, dirumah inget kerjaan, ditempat kerja termehek- mehek inget anak. Dan seneng banget jalan. Super sibuk. Pertemuan dengan komunitasnya begitu menyita waktu.
"Itukah yang menyebabkan perpisahan Akang?" Rara mencoba menyimpulkan.
"Yaaaa, 10% berperanlah" Bintang mengamini.
" Lalu yang 90% nya lagi?" Bintang hanya melirik sekilas. "Duh, matanya itu.. menusuk banget..." Rara berbunga dalam hati.
"Kalo aku sangat singkat menjawab sms bukan aku gak perhatian, atau males jawab atau tidak suka di sms , apalagi pecicilan sama perempuan lain..tapi ya karena inilah aku.." katanya.
"Mereka protes ya? Maksudku istri dan anak-anak dan atau calon istri?" Rara meyakinkan diri bahwa hal itu bukan tertuju untuknya. "Iya." Jawab Bintang.
Lalu katanya lagi,
"Aku dibesarkan oleh ayahku, dia seorang pedagang yang ulet, dia punya kios beras di Pasar Suci. Kami hanya berdua, tak pernah aku mengenal sosok perempuan yang bisa kupanggil Ibu, ibuku meninggal satu tahun setelah aku lahir karena sakit. Ayah tak ada waktu mencari pengganti ibu. Ayahku tenggelam dalam kesibukannya. Aku ada hanya untuk dimaki dan menuruti semua perintahnya. Tapi semua kebutuhanku tersedia dengan mudah. Masih untung aku mau sekolah sampai aku seperti sekarang, sebagai lulusan terbaik dan ditempatkan di Pemerintah Kota Bandung langsung diposisi yang diincar banyak orang.
Hidupku terisi dengan satu tugas ke tugas lain yang on schedule. Dan penghargaan sebagai bentuk apresiasi atas kerjaku aku bisa S2 gratis ke luar negeri." Katanya sombong.
"S2 di Timor Leste? " Rara mencoba mengecilkan arti S2 gratis ke luar negeri karena bagi Rara itu gak asyik, pesona dimata Bintang berubah total jadi mata Dedi Corbuizer. Seremmm...
"Aku lulusan terbaik di Osaka University loh? "
"Gak ngaruh, malah memperberat.." Rara nekad mengatakan opininya.
"Maksudmu Ra?"
" Your main problem is woman! How to has good and compfort relation with us." Ngenglish juga Rara akhirnya.
Bintang diam. Matanya sayu. Lalu lintas jalan raya menjadi konsentrasinya sekarang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dering Telepon di Saat Hujan

Ikhlas, Bak Kilau Berlian

Rasa Itu Kembali 11#