Rasa itu Kembali #1

Bintang Alamsyah, namanya. 
Bintang, benda langit yang berkilau, selalu ada di tempat teratas. Alamsyah mengandung makna alam raya. Gagah, mapan, cerdas dan selalu merasa benar itu realitanya.
Rara mengenalnya 20 tahun yang lalu, saat seragamnya masih putih abu. Saat Rara kelas satu Bintang sudah kuliah semester 5, tapi di organisasinya kakak seniorboleh-boleh saja datang ke almamater SMA bahkan bisa turut membina adik juniornya, disebutlah mereka Pandega. Dan Bintang turut mengembleng Rara saat itu.
Rara dengan sobat-sobatnya di organisasi, menyukai Bintang tapi sekaligus disebelin.


sumber gambar ; internet


Pertemuan tak sengaja disebuah mall membuat Rara mengintip kembali masa eS eM A nya. Ketika tampak seorang lelaki paruh baya berjalan sendiri, tampak berwibawa. Badannya tegap dibalut kaos biru muda polos dengan celana denim senada dan sepatu ketsnya yang ringan membuatnya tampak percaya diri walau terkesan sedikit sombong.
Dia berjalan ke arah Rara yang saat itu kelimpungan mencari hape dalam tasnya karena berbunyi pada volume batas atas, nyaring sekali. Rara yang panik, merogoh-rogoh ke dalam tasnya, tapi tiba-tiba dia menjatuhkan sesuatu tepat saat laki-laki itu melintas. Persis seperti iklan parfum semprot yang fenomenal itu 'harumnya begitu menggoda selanjutnya terserah anda'. Dengan reflek Rara berjongkok begitupun Bintang merunduk mengambilkan.
Bukan pulpen seperti di iklan, tapi hanya sebuah mainan plastik bebek warna kuning milik putri bungsu Rara. Bintang berdiri dan memberikannya pada Rara, mereka bertatapan, entah gugup atau terkejut, tak sengaja mainan bebek berbunyi "ngekk-ngokk" kepencet. Bintang kaget bukan main, merah padam wajahnya menahan rupa-rupa perasaan. Terkejut, malu, kesal dan menahan tawa. Rara buru-buru minta maaf, saat bertatapan itulah dia tahu lelaki itu Bintang. Kerutan halus diujung matanya begitu khas dan menggoda, Rara tak kan lupa. "Kang Bintang?" Sapa Rara. Lagi-lagi orang yang disapanya terkejut.

Sesaat kemudian giliran Rara yang terkejut, karena Bintang menyebut namanya dengan lengkap
"Radita Parahwati Samiaji?" "Kok tau namaku dengan lengkap sih?" Tanya Rara heran, "Karena namamu Parah...hehe". Merekapun langsung akrab. Obrolan seputar kabar teman-teman atau kakak angkatan yang aktif di organisasi dulu. Dimana kang Sani sekarang? Sudah berapa anaknya? Kalau teh Tiar? Teh Sania? Kang Dawan? Kecuali kang Yance, dia icon-nya organisasi dan jago bikin kabaret, Rara kurang hafal berita dan cerita kakak angkatan lainnya. Karena saat itu Rara hanya tertuju pada satu arah saja, Bintang.
Bagi mereka yang lama tak bertemu, perjumpaan kembali itu sesuatu. Laksana bunga diperciki air pegunungan yang bersih dan bening. Walau sepercik tapi mampu menyegarkan ingatan masa lalu yang telah lama tak kembali. Masa muda belia, masa khayalan berkejaran tak ada ujung. Masa ketika skenario masa depan bisa diatur sesuka hati dan berubah setiap saat, yang hanya berisi hal-hal baik, hal-hal indah, tentang masa depan yang gemilang. Saat kumpul bersama, ada saja obrolan ringan yang menyenangkan. Sampai akhirnya hape Rara berdering lagi di volume batas tertinggi nyaring sekali. Mereka bertukar nomor hape lalu Rara pamit.
Baru tiga langkah berjalan tak sadar Rara menengok kebelakang, rupanya Bintang belum beranjak, dengan malu Rara buru-buru tersenyum dan Bintangpun mengangguk.

Setelah 20 tahun, entahlah, hati Rara jadi tak menentu. Sosok Bintang telah sukses membawa dirinya berlayar ke masa lalu dan berandai-andai tak menentu. Seperti sebuah layar yang tiba-tiba terbentang, dengan mudah Rara memutar kembali film usang hitam putih masa itu. Saat rambut kepang dua, celana PDL hijau, kaos biru, sepatu hitam, topi rimba dan sebuah tongkat bambu warna hitam pudar. Berdiri tegap didepan para senior yang siap menguji. Dan ya! Bintang ada disana.
Padahal sejak Dwiyanto, suami Rara meninggal dua tahun lalu dia seolah tutup buku untuk seorang laki-laki. Rara membesarkan kedua anaknya dengan bahagia. Sebagai guru matematika dan pemilik katering 'Karancang' yang sedang berkembang, Rara sudah merasa lengkap. Jiwa kepemimpinannya tertantang melalui usaha kateringnya. Dan motivasinya untuk selalu berbagi dilakoninya sebagai seorang guru yang sabar dan perhatian. Orang- orang boleh iri padanya, sifat rendah hati namun tegas melengkapi sifat keibuannya. Dan itu berarti pundi-pundi tabungan terjamin hingga anak-anaknya besar nanti.Tapi sejak pertemuannya di mall, Rara mulai memikirkan sosok itu. Bintang Alamsyah.

Disusul dua kali pertemuan lain dengan sobat-sobatnya di organisasi dulu, cukuplah buat Rara dan Bintang menjadi lebih akrab satu sama lain. Mereka sama-sama sendiri, terbuka, dan periang. Tak jarang sobat-sobatnya menggoda mereka. Tapi Bintang itu penuh kejutan, di dunia maya dia berubah kaku dan seperlunya.
(Betul juga ya, dunia maya adalah dunia semu tak tersentuh, tak bisa diprediksi dari gerak bahasa tubuh. Dunia maya dunia kata-kata, dunia gambar penuh warna. Banyak tipuan dan imajinasi tanpa batas disana, tak mencerminkan sejatinya)

Jarang sekali Bintang membalas bbm Rara. Sibuk pikirnya saat itu, tapi kenapa juga Bintang selalu ganti picture profile hampir 4-6x sehari, seperti yang jualan seprei gonta ganti motif supaya laku. Fotonya di ruang kantornya, saat makan, didalam mobil, saat bersepeda, berenang, atau saat petualangannya dijagat hutan belantara atau ketika berlibur dan beroff road bersama teman-temannya. Dengan Penampilan yang rapi dan serasi Rara sering menggodanya untuk sekedar memberi komentar, tapi tak satupun di balas Bintang. Huffhs..
Awalnya sih asyik-asyik aja, tapi lama-lama mana tahannn..! Bertepuk sebelah tangan kayak gini mana boleh disebut ada apa-apanya. Rara mulai gerah dengan sikap Bintang yang dingin..

(Ketika usia sudah tak bisa dibilang muda tapi penampilan sukses seperti lelaki muda. Saat semua cita-cita materi tercapai dengan sempurna. Petualangan- petualangan yang butuh keberanian tunggal sudah selesai dijajal dan sekarang terasa biasa, juga saat persahabatan sudah hilang makna, pun saat mencintai juga dicintai telah luntur oleh waktu karena penghianatan atau karena kecewa tak berkesudahan Bintanglah pancarannya. Kokoh tapi rapuh, sombong tapi butuh, tegar tapi menanti perhatian.. )

Pada titik ini hubungan tak berkembang, padahal saat bertemu mereka tampak akrab dan nyaman. Sebagai guru yang suka mengamati Rara tergiring berasumsi dan akhirnya menyimpulkan.
Ah ,sudahi sajalah. Kayak lagu dangdut yang terkenal itu "Kau yang memulai kau yang mengakhiri " begitu Rara berkata pada dirinya. Selesai ! Layar ditutup penonton kecewa...huuuuuuuu.

Tapi, sore ini bb Rara berbunyi, "Sudah makan?" "Sudah." Jawab Rara titik. "Sendiri?" Balas Bintang. "Yup." Titik
Selanjutnya sepi hanya terdengar gemuruh hati yang tak menentu...tumben.

Malam menjelang, anak sulungnya baru saja pulang. Tiba-tiba pintu depan diketuk dan Bintang muncul begitu saja,"Kita keluar yuk, Ra?" Siapa yang bisa menolak.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dering Telepon di Saat Hujan

Ikhlas, Bak Kilau Berlian

Rasa Itu Kembali 11#