Tips Asyik Ngobrolin Anak Bersama Suami

Makcoebak baru selesai nulis tentang gimana cara ngobrolin masalah anak  kepada suami. Beberapa temannya mengeluh  ketika harus ngomong masalah anak kepada suami-suami mereka. Belum apa-apa suami sudah menghakimi. “Masa ngurus masalah anak  aja gak bisa?” atau “Aku percaya sama mama deh.” Malah lebih ekstrim suaminya anteng aja dengan gadgetnya, seperti mendengarkan tapi tak satupun komen terucap.
Ah, mungkin saja hal ini terjadi karena belum tahu cara  ngobrol yang tepat sama suami. Kalau tahu caranya, pasti kok suami mau ikut terlibat dan bekerjasama secara terus menerus. Melalui obrolan  yang rileks tapi tertata akan terjadi interaksi yang saling menghargai. Hal tersebut  akan memudahkan  menyampaikan pesan dan suamipun paham. Pada gilirannya akan ada tindakan lanjutan (action) dari hasil obrolan. 

Bolehlah di coba beberapa tips di bawah ini. Apalagi jika semuanya dicoba, dijamin deh  :
1)      Perlu dipahami masalah anak sebenarnya
Menurut buku “Men are from Mars Woman are from Venus” karya John Grey bahwa laki-laki akan mendengarkan dengan seksama jika masalah disampaikan secara langsung pada inti masalah (to the point). Jangan lebay dan berputar-putar  apalagi mendramatisir, supaya suami enggak beralih ke hp atau menguap sambil  kedip-kedip mata karena merasa bingung nggak nangkep pointnya.

2)      Tidak menyalahkan
Jika obrolan diawali dengan kalimat-kalimat yang menyalahkan,  maka selanjutnya komunikasi hanya jadi ajang bantah-bantahan. Kita terkadang merasa paling benar atau sebaliknya. Kadang obrolan melebar ke masalah lain yang nggak ada hubungannya sama anak. Misalnya merasa paling menderita selama berumah tangga, merasa kurang perhatian dari suami. Waah.. drama korea dimulai. Jangan ya, tetap fokus pada tujuan yaitu tentang anak. Hindari kata-kata “pokoknya”, “asal kamu tahu ya”, “ayah nggak pernah mengerti ibu,” aku capek” dan kalimat-kalimat yang menyalahkan. Alih-alih mencari solusi malah saling menyerang atau mengungkapkan kejadian masa lalu yang enggak perlu dan enggak berhubungan dengan masalah anak.


3)        Tidak mendominasi pembicaraan
Stereotipenya perempuan itu mendominasi pembicaraan. Bagi suami yang tak banyak omong jadilah kita ini petasan rambat yang tak bisa dihentikan. Kalau udah begitu stereotipenya lelaki akan menghindar daripada meladeni istri yang lagi ngomel. Kebanyakan para suami akan pergi atau tetap di tempat tanpa mengeluarkan satu patah katapun. Tapi jangan kaget kalau suami akan marah dan berkata dengan keras. Pliss jangan sampe kejadian ya. Masalah anak belum selesai sudah muncul masalah baru.

4)      Tempat yang mendukung
Pilihlah tempat yang sekiranya nyaman untuk membahas permasalahan yang ada. Big no membahas masalah anak di depan mereka meskipun anak tampak tak peduli karena sedang nonton tv atau mengerjakan sesuatu. Kalau perlu pilihlah tempat yang netral di luar rumah atau cukup di rumah saat anak sudah tidur.

5)      Waktu yang tepat
Kata pakar komunkasi, setelah melakukan hubungan intim merupakan  waktu yang tepat untuk membahas suatu masalah. Disaat hormon testoteron dan progesteron telah tersalurkan dengan baik, suasana yang  rileks dan nyaman akan  memudahkan  berdiskusi mencari solusi.

Bertahanlah jika merasa belum ada perubahan. Jangan membayangkan perubahan yang indah. Yakini  bahwa suami mengerti maksud dan keinginan kita. Teruslah diingatkan.
Daan….jangan lupa memohon kepada Maha Pencipta,Yang Maha membolak-balikkan hati.
Doakan suami, anak, dan diri sendiri. Makcoebak  ingin menulis doa di point pertama, tapi nanti nggak baca sampai tuntas. Iiih, makcoebak nuduh..he


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dering Telepon di Saat Hujan

Ikhlas, Bak Kilau Berlian

Rasa Itu Kembali 11#