AKU LARUNG NAMAMU DI MIANGAS

Menghitung hari.Aku sudah nggak sabar. Dalam 48 jam lagi aku akan pergi dari  sini. Selamat tinggal kepulauan Porodisa, I hate you but, I know, I’ll miss you. Semoga ayah tak berubah pikiran. Melepas putri sulungnya belajar di tanah Jawa.
*
Sejak kecil aku memang  sering berpindah –pindah tempat tinggal. Mengikuti ke manapun ayah ditugaskan. Ayahku seorang Perwira TNI Angkatan Laut. Seluruh kota di wilayah Indonesia yang ada lautnya, itulah rumahnya.
Aku bagai  terkena kutukan Dewa Hermes. Setiap pindah ke suatu kota aku belum pernah punya sahabat dekat. Sekedar teman adalah, tapi sahabat? Satu-satunya yang  kuanggap sahabat hanyalah Lulu. Anak si mbok Biyah yang  selalu ikut ibu. Terakhir, si mbok ikut  kami  ke Jakarta, lalu suaminya melarang. Jadilah mereka kaum urban Jakarta  yang  merepotkan gubernurnya.
Thanks God hape ditemukan. Penemuan  paling ajib  abad ini. Komunikasi kami tak kandas oleh jarak. “Gue suka di sini.” Aku bersemangat.                 Akhirnya bokap ngizinin, syaratnya gue harus keterima di UI . Gimana ntarlah, pokoknya gue touchdown Bandung. ” di ujung hape Lulu hanya diam.

Siapa yang antar ke Manado?” "Jadi, kau tinggal sama nenek? " Tanya Lulu.

“Ajudan! Sejak kapan DanLanal Melonguane anter anaknya.” Aku jawab sekenanya, walaupun Ibu bilang itu karena ayah tak ingin terlihat menangis saat melepasku .

*
Pelajaran terakhir hari Jumat, PPKN. Tentang budi pekerti, moral, dan segala hal baik. Terik di luar  begitu menyengat, cacing-cacing di perut tak sabar minta jatah. Bisa-bisa aku tertidur, menghadapi pelajaran yang pastinya membosankan. Paparan teori indah, minim pelaksanaan. Tetiba segerombolan lelaki melewati kelas. Beberapa orang celingukan di jendela. Spontan teman-teman cewekku heboh kayak ikan dikasih umpan.

“Siapa mereka Na? “ Yang ditanya malah sibuk merapikan rambut.

“ Itu Razaka, ketua OSIS tahun lalu.” Jawab Nana. 
Meskipun anak baru tapi aku sudah punya banyak teman. Mungkin karena aku bukan ancaman buat mereka. Aku cenderung sawo matang. Rambutku cenderung gelombang pasang,  dan wajahku   nanggung. Nggak cakep-cakep amat, nggak juga tampak cerdas. Aman pokoknya. He..  


Namun, mereka takjub dengan kota asalku. Kota Melonguane Kabupaten Talaud, Sulawesi Utara. Saat kuceritakan pulau Miangas mereka cuek, tapi waktu kunyanyikan jingle iklan mie instan “Dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote” barulah mereka angkat kuping tinggi-tinggi. Penasaran dan mulai bertanya-tanya. Iya, pulau terdepan Indonesia di sebelah utara yang berbatasan langsung dengan Filipina. 
      
“Awas ya, kalo  suka sama Razaka.” Nana mencibir.

“Alah, paling-paling kalian jadi barisan para mantan, mantan di tolak.” Aku terbahak.                                                                                                     Tetiba pintu berderit. Seorang lelaki masuk, membuat mataku terbelalak hampir melompat keluar dari kelopaknya. Dadaku berdegup tak karuan. Bapak Hanif Bramana. Dia akan mengajar PPKN sekaligus pelajaran Agam Islam. Aku nggak jadi ngantuk.

*
“Razaka, RA ZA KA.”Aku mengeja namanya pada Lulu.

“Gue penasaran, saat papasan di ruang guru , ya  ampyun...gue  harus mengamini kata-kata Nana. Putih,tinggi,ramah ,gagah.” Aku melamun.

“Lo suka ya ?” Lulu menggoda.
“Ah nggak, lo belum liat Pak Hanif sih, dia baru tipeku.”

“Heloww, bapak guru mirip ayahmu ini udah kawin? Hati-hati bisa kuwalat lo.” Lulu nyerocos panjang lebar, tapi hatiku sudah terpanah merah. Merah cinta.

*
Aku dan Nana privat baca Quran sama pak Hanif. Aku sih bak putri dongeng  di jalanan macet ngejar taksi ketemu ojek. Feeling so blessing. Aku merasa Allah  sayang banget sama aku, sosok ayah sekaligus lelaki yang kuimpikan. Kudapatkan dari guru ngajiku ini. Juga sahabat. Paket super duper lengkap. Selain berwawasan dan humoris  Pak  Hanif telah menyihirku dengan kalimat-kalimat mantera pencerahnya. Aku tercerahkan.
Keputusan berhijab memang bisa dibilang mendadak, tapi aku  percaya diri dan merasa anggun. Pak Hanif senang dan  mendoakan. Ya, Pak aku istiqomah mendambamu.
Setelah berhijab, Razaka, dia melihatku. Sering stalking dan kepoin  IG dan Facebook, sampai akhirnya ngajak ketemuan via whatsapp.
“Bulan depan kamu ujian, fokuslah dulu. Aku di sini kok.” Aku membalas rasa sukanya dengan perasaan bersalah. Tidak menolak tapi belum mengiyakan.

“Oke,  setelah ujian ya,” “Selama kau tak berpaling aku anggap  itu jawaban iya. Aku berharap  menjadi lelakimu.”  
Senja yang romantis. Tetiba muncul bayangan Nana, sahabat pertamaku selain Lulu. Dia menaruh suka pada Razaka begitu dalam. Aku tak akan pertaruhkan persahabatanku.

*
Pagi itu perjalanan ke sekolah  tak seperti biasanya. Aku ingat ayah terus.  Aku ingin sekali memeluknya, minta maaf padanya. Angkot yang kutumpangi terasa lenggang. Padahal sama saja seperti hari-hari sebelumnya. Aku merasa terbang ke awan. Mataku tak pernah lepas menatap hapeku. Aku tersenyum. Begitu turun, tak terelakan sebuah sepeda motor menyeruduk ke arahku. Tubuhku oleng, pandanganku kabur. Aku tak ingat apa-apa.

Ada ayah, ibu dan nenek. Aku tersadar tiga hari kemudian. Aku tersenyum seperti sebelumnya. Ingin memeluk ayah tapi pusingnya belum hilang.
“Jangan banyak bergerak. Kepalamu terbentur jembatan.“ Ibu mengingatkan.
Dari balik pintu, datang dua orang yang tak ku kenal. 
“Ini Luna, sepupumu yang kuliah di UI. Nenek kan sudah bilang dia mau ke Bandung. Dan itu tunangannya. Hanif. Dia guru di sekolahmu ya? Nenek baru tau.” Seketika, aku ingin pingsan lagi.

“Mana hapeku bu?” Hanya hape  yang ingin kupegang saat itu.
Ayah diam. Dia tahu.

Pak Hanifku
Anda
Aku ingin menjadi perempuan yang membuatmu berhenti mencari.
Seperti seekor burung terbang jauh yang kembali ke sarangnya
Seperti sebuah peluk hangat saat hatimu sedang tak karuan.
Seperti sebuah rumah yang  membuatmu selalu ingin pulang.

Wow, siapa yang tak merasa tersanjung dapet puisi begini indah.
Ini nyata kan Pingkan? Kau tak sedang melucu?
Andai waktu bisa diputar ulang,
Ya! Haqqul yaqin aku akan berlari mencari pemilik puisi ini. 



Ayah bawa aku pulang. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dering Telepon di Saat Hujan

Ikhlas, Bak Kilau Berlian

Rasa Itu Kembali 11#