JALAN-JALAN KE STONE GARDEN –PADALARANG


BEBATUAN PURBA MILIK URANG SUNDA
Minggu ke-3 tiap  bulan adalah jadwal saya sekeluarga untuk jalan-jalan. Yipii.. alangkah senangnya.  Hari itu dalam balutan gamis hitam,  saya bersama anak-anak bersiap pergi ke toko buku yang ada di sebuah mall terkenal di Bandung. Saat buka hp, saya penasaran dengan foto-foto yang teman upload di Garden Stone-Padalarang . Kami pun memutuskan untuk berwisata ke sana.
Perjalanan ke Garden Stone yang terletak di Gunung Pawon Citatah Kp.Giri Mulya Padalarang Kab. Bandung Barat hanya  menempuh waktu  1 jam via tol.  Namun, begitu keluar  tol  kemacetan jalan raya Padalarang-Cianjur harus kami nikmati dengan sabar. Dua anakku sudah terlelap. Tidak dengan si sulung,  dia sangat menikmati perjalanan.  Dia memang istimewa.  Menghafal nama-nama kecamatan  di Jawa Barat itu kesukaannya. Melakukan perjalanan seperti ini menjadi terapi konsentrasi untuknya.
Sampai di tempat tujuan hari sudah siang. Beruntung matahari  enggan  menampakkan diri sedari pagi. Awalnya anak-anak agak malas menuju lokasi  karena rutenya nya sedikit menanjak  dan panjang. Setelah isi perut  dengan kudapan ringan khas Sunda bala-bala  dan gehu anak-anak kembali bersemangat apalagi saat saya membolehkan mereka menyantap mie instan saat pulang nanti.           Satu yang saya pelajari, tak semua lokasi wisata akan langsung disukai anak-anak.
Setelah 10 menit berjalan, itu tuh  hitungan waktu  saya yang melangkah,   berikut tiga anak yang enggan bergerak. Kami tiba di puncak.  Daaan.. seketika kami merasa  takjub.  Iya benar, capeknya hilang. Kumpulan batu coral  setinggi  lutut orang dewasa bersekaran di mana-mana.  



“Waah, kayak kumpulan troll temennya Kristoff di film Frozen.” Bungsuku  berteriak senang. Mulailah  anak-anak minta difoto dalam berbagai pose. Berjalan terus ke depan kami disuguhi pemandangan indah. Hamparan hijau plus jalan raya Padalarang -Citatah terlihat kecil dari tempat kami berdiri.  Di salah satu batu yang besar anakku berpose gagah, dengan latar belakang hamparan hijau. Keren banget.
Selain bebatuan mirip troll ada lagi batu-batur besar  berbentuk  persegi panjang menjulang dan berbaris. Berdiri tegak  bak sebuah benteng  pertahanan dan kamipun  berfoto lagi diantara dua batu.  Persis seperti gerbang kerajaan di masa lalu.
Sebenarnya kami ingin  naik lagi sedikit. Katanya disitulah letak gua Pawon yang didalamnya ditemukan fosil manusia purba. Saya lihat banyak pemuda yang duduk  di  bebatuan di atas gua. Sepertinya, mereka sedang menikmati satu pesona bentang alam yang menakjubkan. Belum sempat beranjak menuju gua hujan rintik mulai turun. Kami bergegas mendekat ke saung-saung yang sengaja didirikan. Penuh juga saungnya. Rata-rata mereka membawa bekal makanan  untuk di makan bersama-sama. Orang Sunda menyebutnya botram. Botram juga salah satu keseruan kalau sedang piknik. Kegiatan lain di saung adalah melakukan kajian agama. Ada sekelompok remaja putri yang sedang serius mengkaji al Quran dipandu seorang guru.. Sambil menikmati keindahan alam ciptaan Allah pasti suasana kajian jadi lebih bermakna.
Ada beberapa pengalaman berharga yang saya dapatkan saat mengunjungi Garden Stone,  membawa bekal nasi itu penting banget jika datang bersama keluarga, supaya bisa botram sambil menikmati pemandangan.  Selain makanan sebaiknya memakai  sepatu gunung  atau sepatu olahraga agar leluasa bergerak dan tak mudah terpeleset. Melihat si sulung yang agak kesulitan  karena memakai sandal ***c  yang licin, mengharuskan kami beberapa kali berhenti  menunggunya  padahal saat itu kami akan berfoto bersama.
Meskipun tak sampai ke gua Pawon, kami tetap merasa senang menikmati pemandangan dan menyaksikan keindahan bebatuan purba.  Terlebih melihat anak-anak  yang antusias melihat bebatuan yang asing buat mereka. Jam Tiga sore kamipun turun. Sebelum sampai ke tempat parkiran saya baru ngeh kalau  ada semacam  Welcome stage   bertuliskan “Welcome to Garden Stone Geo Park” disisi sebelah kiri dan sebuah  papan besar  bertuliskan  sejarah singkat dan peta lokasi Garden Stone ini.
Saya baru tahu kalau kota Bandung itu, jutaan tahun lalu merupakan sebuah cekungan danau.  Air danaunya surut lalu muncullah daratan yang sekarang menjadi Bandung. Kata orang , jika beruntung saya bisa menemukan batuan dengan cetakan karang, kerang laut atau fosil tumbuhan laut berjuta-juta tahun yang lalu disini. Konon, Garden Stone tadinya merupakan dataran laut dangkal.  Sayang saya tidak berhasil karena asyik berfoto. Hehe..
Waktu sudah menjelang ashar rasa lapar sudah tak tertahankan. Anak-anak nagih makan mie instan di salah satu warung yang jualan makanan sepanjang jalur menanjak yang dilewati. Baiklah anak-anak nikmati mie instan kalian, selagi ibu mengizinkan.
Sambil menunggu mie,  ayah dan anak-anak bergantian ke toilet yang ada di bawah. Sayang toiletnya hanya ada dua jadi harus antri menunggu giliran. Fasilitas mushala memang ada, tapi ayah memutuskan untuk sholat di masjid di perjalanan saja saat pulang nanti.

Di perjalanan pulang, ayah menyerahkan tiket masuk dan parkir mobil. Tertera Rp. 6000/tiket dan Rp 5000 untuk parkir mobil, meskipun  terlihat seperti  bukan tiket resmi dari Pemerintah Daerah Kab Bandung tapi saya rela.  Saya hanya mengeluarkan kocek untuk lima  tiket dan tujuh  porsi mie  plus bala-bala dan gehu. Padahal,  kami dapat pengalaman asyik di Garden Stone Geo Park ini.  Siapa yang gak akan tersenyum, wisata hari ini gak bikin dompet jebol . Yeaa..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dering Telepon di Saat Hujan

Ikhlas, Bak Kilau Berlian

Rasa Itu Kembali 11#