Rasa itu Kembali 6#
Tiba-tiba Bintang berkata,"Wanita itu sudah kutemukan Ra, tepat dihadapanku sekarang."
Samar- samar terdengar lagu Perahu Kertas Maudy Ayunda. Lagu yang kerap disetel Bintang di mobilnya. (Reffrein) ...Berdua. Kubisa percaya. Kubahagia kau telah terlahir didunia..
Sungguh Rara menerawang jauh ke masa lampau yang sudah terkubur dalam dan jauh. Sosok Dwiyanto tiba- tiba muncul. Berdiri,Tersenyum, mematung.
Lalu tiba-tiba berbalik dan berjalan ringan, masih tersenyum.
Hanya sekali dia menengok kebelakang, masih senyum yang sama.
Lalu berjalan lagi sampai menghilang tertutup kabut keabuan.
Rara hanya mampu terdiam dalam bimbang.
Lalu tiba-tiba berbalik dan berjalan ringan, masih tersenyum.
Hanya sekali dia menengok kebelakang, masih senyum yang sama.
Lalu berjalan lagi sampai menghilang tertutup kabut keabuan.
Rara hanya mampu terdiam dalam bimbang.
![]() |
| Sumber : internet |
(Glek) Tak satupun kata terucap, mata Rara berkunang-kunang. Kesal menguasainya, menekan sangat dalam rasa bahagia mendengar kata-kata Bintang.
"Satu yang seharusnya tak kau lakukan," Rara berkata lirih
"Apa?" Bintang menangkap sesuatu yang salah.
" Membandingkan.....Aku tak bisa menerimanya, keterlaluan"
" Kenapa akang tak bisa belajar mempercayai satu, dengan nuranimu?" Rara menggeleng-geleng pelan.
" Sebaiknya kita gak usah ketemu dululah." Tak sadar mata Rara berkaca-kaca, sepertinya ada peristiwa yang mengganggunya.
Bintang terkejut tak menyangka. Sesuatu yang menurutnya biasa tapi ternyata begitu bermakna buat Rara.
Ah, wanita,wanita. Giliran Bintang membatin. Tapi Bintang sudah terlanjur menambatkan hati. Dia berusaha minta maaf.
Diraihnya tangan Rara perlahan lalu ditariknya agar wajah itu bersandar didadanya.
"Apa?" Bintang menangkap sesuatu yang salah.
" Membandingkan.....Aku tak bisa menerimanya, keterlaluan"
" Kenapa akang tak bisa belajar mempercayai satu, dengan nuranimu?" Rara menggeleng-geleng pelan.
" Sebaiknya kita gak usah ketemu dululah." Tak sadar mata Rara berkaca-kaca, sepertinya ada peristiwa yang mengganggunya.
Bintang terkejut tak menyangka. Sesuatu yang menurutnya biasa tapi ternyata begitu bermakna buat Rara.
Ah, wanita,wanita. Giliran Bintang membatin. Tapi Bintang sudah terlanjur menambatkan hati. Dia berusaha minta maaf.
Diraihnya tangan Rara perlahan lalu ditariknya agar wajah itu bersandar didadanya.
"Maafkan aku Ra, maafkan aku, aku tak bermaksud membuatmu kesal. Ceritakanlah ada apa?"
Tangan itu kokoh tapi halus, begitu hangat saat menyentuh tangan Rara yang rata-rata saja, tak terlalu halus tak terlalu kasar, malah kerut-kerut usia sudah tergores disana.
Ingin Rara membalas sentuhan itu dengan menggenggam erat tangan Bintang.
Tangan itu kokoh tapi halus, begitu hangat saat menyentuh tangan Rara yang rata-rata saja, tak terlalu halus tak terlalu kasar, malah kerut-kerut usia sudah tergores disana.
Ingin Rara membalas sentuhan itu dengan menggenggam erat tangan Bintang.
"Sudah Kang, aku ra apa-apa" Rara melepaskan genggaman hangat itu.
"Sudah magrib, apa ga sebaiknya ke masjid? Aku solat dirumah saja ya" " Atau, atau sebaiknya Akang langsung pulang saja."
Tanpa ekspresi Bintang mengangguk, dia sungguh tak menyangka.
" Maafkan aku Rara.."
"Sudah magrib, apa ga sebaiknya ke masjid? Aku solat dirumah saja ya" " Atau, atau sebaiknya Akang langsung pulang saja."
Tanpa ekspresi Bintang mengangguk, dia sungguh tak menyangka.
" Maafkan aku Rara.."
Sepulang dari masjid Bintang memang langsung ke mobilnya. Pintu rumah Rara tertutup rapat, seolah tuan rumah sungguh tak mengharapkan siapapun tamu datang.
Dalam mobil Bintang terdiam, dia bingung.
"Rara sayang, ada apa? Aku bahkan belum paham mengapa kau menggambar sepasang sepatu beda kiri kanannya.." Bintang menerawang.
Dalam mobil Bintang terdiam, dia bingung.
"Rara sayang, ada apa? Aku bahkan belum paham mengapa kau menggambar sepasang sepatu beda kiri kanannya.." Bintang menerawang.

Komentar
Posting Komentar