Rasa itu Kembali 5#

Sesak dadanya. Wanita mana yang rela dibandingkan dengan wanita lain? Walaupun sekedar komen ece ece tentang selera parfum atau warna kerudung. Intuisinya bicara, Bintang curhati wanita yang menjadi tipenya selama ini, tapi itulah masalah terbesar Bintang dengan wanita.
"Kayak Kuasa Pengguna Anggaran dikantormu yang membanding- banding rekanan mana dari pengajuan mereka yang mendekati Harga Penawaran Terbaik, begitu ya?"
Rara tercekat menahan marah.
"Asal tahu ya Kang, obrolan Akang tuh sudah bisa aku simpulkan setelah nonton Revolution Road malam itu. Aku sudah mengerti, karenanya aku hanya menggambar sepasang sepatu yang kiri kanannya beda setelah itu. Itulah kesimpulan akhirnya. Membosankan sih! Tau ngga, aku hanya perlu 3 point untuk menyimpulkan." Sengaja Rara sedikit sombong, nafasnya tersengal, jelas sekali kalau dia sedang cemburu.
"Akang tuh memuja kami . Setelah perceraian, hidupmu timpang. Tak sadar Akang berharap banyak pada istrimu. Berharap istri tapi sekaligus menjadi sosok ibu yang tak Akang peroleh sejak dulu. Merindu sosok lembut, tenang dan hangat, yang selalu bisa menguatkan ketika merasa lemah.Yang memaklumi ketika merasa tak mampu. Yang gak perlu berargumen seru untuk hal-hal yang tak perlu. Tapi kenyataannya??? Begitu mengecewakan."
Sumber : internet

Rara terdiam sebentar , merasa kata-katanya terlalu kasar. Tapi Bintang tenggelam dalam kekhusyuan mendengarkan.
"Kedua, kau ingin menguasai ! Sebagai bentuk cintamu yang sangat. Didikan ayahmu telah membentuk sikap pragmatis dan langsung pada sasaran. Tanpa hati. Terlebih dunia kerja yang terencana rapi dengan program dan evaluasi. Jelas lugas tuntas!"
"Akang tak tahu bagaimana cara mencinta, selalu peroleh apapun yang diinginkan dan memperlakukannya dengan cara mu sendiri. Menuntut untuk dipahami tapi lupa kalo seorang istri juga punya fikiran dan harapan untuk dirinya sendiri. Tapi akang melihatnya dari sudut pandang lelaki.Tak ada kompromi"
Bintang tak bergeming hanya sekali dia meneguk air mineral botol yang dibawanya tadi.
"Lalu ketiganya?" Bintang seolah tak sabar
"Ketiganya sih...." Intonasi bicara Rara mulai menurun dia sudah bisa menguasai diri.
"Hanya sebuah saran dari ku, tapi.. tapi sudahlah gak penting. Tanyakan saja pada perempuan itu, dia pasti seorang wanita cerdas" Rara jadi gak percaya diri.
Bintang tersenyum."Perempuan itu Yana. Dosen Psikologi di Unpad. Waktu SMA dia dibawahmu setahun. Kau kenalkan? Tapi ngga ah, aku lebih suka caramu menanganiku." Bintang menatap Rara sambil tersenyum penuh arti.
Rara sontak terkejut, fikirannya berbalik 180 derajat ke masa lalu. Yana! Shakila Dwiyana..!!
Seolah menabrak karang mendengar nama itu, dengan bergetar menahan marah Rara pun melanjutkan,
"Kalaulah Akang tidak bisa berubah menjadi lebih fleksibel, ya.... ganti tipe lah. Ganti chasingnya. Bukan lagi yang mandiri, berprestasi, dengan standar tinggi, tapi seseorang yang biasa saja, yang tak menjadikan karir segala-galanya. Wanita yang sedikit manja dan bergantung padamu.
Lebih senang dirumah daripada sosialita yang pandai bergaul dan supel. Baginya laki-laki adalah imam yang membuatnya tak sanggup berpaling ke lain arah. Dengannya Akang tumbuh bersama, menikmati hidup dengan penuh kehangatan dan kegembiraan."
Mereka beradu pandang. Dalam diam tanpa suara. Hanya hati bergemuruh, sibuk mencari frekuensi yang sama...frekuensi cinta yang memberi daya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dering Telepon di Saat Hujan

Ikhlas, Bak Kilau Berlian

Rasa Itu Kembali 11#