Rasa Itu Kembali 15# (tamat)



  • "Okay Kang, lain kali aja ya, baca dulu dong baru kita ketemu." 
    Akhirnya Rara mampu berkata tidak.
    Dilepasnya gamitan Bintang, lalu berjalan mantap keluar gedung. Rara merasa lepas.

    sumber : internet

    Bintang mematung. "Aku sudah membacanya."
    Bintang berkata di hatinya."Beri aku waktu. Setelah kepastian pencalonanku, aku akan mengajakmu. Aku butuh pendamping. Dan kau adalah pilihan ku."

    Di dalam angkot jurusan Margahayu-Ledeng Rara tenggelam dalam lamunan, saat masuk seorang lelaki dengan tas ransel yang besar duduk berhadapan dengannya. Acuh saja, lelaki itu duduk,  tiba-tiba Rara merasa orang dihadapannya mirip pemain sinetron Preman Pensiun di televisi. Spontan Rara menyapa,
     "Kang Ubed Preman Pensiun ya? Minta tanda tangannya kang buat anak saya."
    Dirogohnya tas ungu mencari buku dan pulpen. Lelaki itu tersipu, sakit hati tepatnya.  Tega benar
    dimiripkan dengan tokoh Ubed. Walaupun pemain sinetron, tak relalah kalo harus mirip dengan tokoh itu.
     Begitu gerutu lelaki itu dalam hatinya. Saking sakit hatinya tiba-tiba lelaki itu minta sopir menghentikan angkot di ujung jalan ke Dago. Yaaah... Rara kecewa penumpang lain juga.

    Hape Rara berbunyi di volume nada atas keras sekali. Terkejut karena Rara tak pernah memilih ringtone Dealova milik penyanyi Once yang serak2 berat itu.      " Ah, pasti si abang Faza yang mengganti ringtone ini." Rara terpekik.
    Dilihatnya, 'Bintang si keceh'. Menimbang sesaat akhirnya Rara menjawab,
    "Iya kang, halo..?"
    "Ra, kamu dimana? Kita harus ketemu!" Suara Bintang terdengar lantang seperti memerintah stafnya.
    Rara berusaha tenang, dia tidak mudah terpancing. 
    "Akang sudah baca semua?" "Gulungan dan surat didalam kotak?" 
    " Iya sudah, dan aku gak ngerti !! Pokonya kita harus ketemu sekarang!" Nafas Bintang terdengar memburu.

    "Kieu welah, dinten ieu mah kita tuntaskeun heula agenda urang masing-masing. Sambil berfikir dengan rileks dan tenang apa sih yang kita butuhkan sebenar benar benarnya."
    "Pami tiasa mah solat istisqo Kang."

     " Apa?" Bintang terdengar kaget. "Eh, istikharah." 

    "Kamu gak ngerti Ra, Dua minggu ieu Akang ngiringan tes kelayakan kanggo calon bupati Ciamis di Pilkada nanti. Kau tau kan, seorang bupati perlu didampingi istri bupati."
    Rara terhenyak.
    Tetap Bintang pusatnya. 

    Ah, ini tidak sesuai skenario. Rara punya khayalan sendiri. Harusnya Bintang mengejarnya memohon atau mengiba lebih tepatnya. Walau sesaat Rara ingin melihat ketidakberdayaan seorang Bintang seperti lagu lawas Ismail Marzuki tekuk lutut disudut kerling wanita.S
    angat cocok mewakili situasinya.
    Menjadi atau tidak menjadi istri seorang bupati atau gubernur sekalipun.
    Rara terjerat jebakan betmen yang dibuatnya sendiri. Memang sih, terkadang dia merasa dialah sepatu sendal casual itu tapi..?
    Kalaulah tidak dicalonkan sebagai Bupati akankah Bintang tetap memilihnya?
    " Ra, kau masih mendengarku?" Diujung telepon Bintang bertanya.
    " Ya, kang! "
    " Nanti malam ya, aku ke rumahmu."
    " Gak perlu Kang! "
    suara Rara terdengar tegas.
     "Nanti saja kalau sudah pasti gagal dicalonkan, boleh  ke rumah. Titik. Assalamualaikum " Klik.

    Dan benar saja Bintang gagal menjadi calon bupati Ciamis, tapi maju sebagai calon walikota Cirebon. 
    Bintang bergurau waktu ke rumah Rara.
     "Kamu bilang aku boleh ke rumahmu kalo gagal jadi calon bupati Ciamis bukan berarti tidak boleh mencalonkan sebagai kepala daerah di kota lain kan?" Dalam satu hal, laki-laki begitu sederhananya memaknai ucapan tendensius seorang wanita. 
    Rara terbahak dibuatnya. Dan merekapun bahagia.

    Daya pesona hanya samar tersisa
    Hasrat terpendam masih muncul walau pelan
    Tetapkah bernama cinta?

    Khayalan menggebu mulai tertutup awan
    Persahabatan, nama yang pantas ada
    Tapi dalam ikatan sakral yang indah
    Semua lebih sarat makna. Tak hanya dunia
    Dikampung akhirat, mengapa tidak?


    tamat

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dering Telepon di Saat Hujan

Ikhlas, Bak Kilau Berlian

Rasa Itu Kembali 11#